Bioavalaibilitas Mineral dan Interaksinya

Biofortifikasi pada Bahan Pangan Pokok
·         Biofortifikasi hasil panen – mengembangkan beberapa varietas untuk meningkatkan kandungan mineral dan vitamin – menghasilkan kandungan mikronutrien yang lebih tinggi pada pangan yang biasa ditanam dan dikonsumsi oleh orang-orang miskin.
Ø  Bioavalibilitas adalah bagian nutrisi yang dicerna yang tersedia untuk digunakan oleh tubuh dalam kondisi fungsi fisiologis normal atau untuk disimpan. Nilai 100% berarti bahwa semua nutrisi yang tercerna dapat diabsorbsi dan disediakan.


Ø  Penentuan Bioavaibilitas
·         20-50% b-karoten yang dicerna diabsorbsi dan sangat tergantung pada kandungan lemak
·         Fe =  5-15% (tergantung pada tipe dietnya)
·         Zn =  15-50% (tergantung pada tipe dietnya)

Ø  Pengukuran Bioavaibility
Provitamin A
Fe & Zn
Perubahan level retinol dan karotenoid pada serum
Perubahan di dalam serum menunjukkan status Fe & Zn
Level Retinol dan karotenoid pada ASI
Level Zn pada rambut
Perubahan pada cadangan di hati
Jumlah Hb atau seluruh simpanan di dalam tubuh
Perubahan pada simpanan di dalam tubuh


Faktor yang mempengaruhi bioavaibility karotenoid
1.       Jenis-jenis Karotenoid (lycopen, alfa dan beta karoten, xanthofil, lutein, zeaxanthin dan kriptoxanthin)
a.       Isomer (all-trans vs cis)
b.      Absorbsi kuat pada isomer all-trans, kecuali lycopene
c.       Walaupun mengkonsumsi cis, tetapi yang terlihat di plasma adalah isomer trans
2.       Ikatan Molekuler
Belum dipelajari dengan baik. Esterifikasi dapat meningkatkan absorbsi (terbukti bahwa lutein ester memiliki bioavabilitas lebih tinggi dibandingkan lutein)
3.       Jumlah karoten yang dikonsumsi
a.       Respon kinetik serum pada b-karoten yang dikonsumsi secara oral tidak menunjukkan ketergantungan pada dosis
b.      Diberikan dengan atau tanpa makanan
c.       Kompetisi dengan carotenoid lain, misalnya zanthophylls pada maizena
4.       Matriks yang mengikat carotenoid
a.       b-karoten yang hancur di dalam minyak lebih mudah diabsorbsi dibandingkan di dalam makanan
b.      Karotenoid dapat terperangkap dan kompleks pada protein di dalam kloroplas dan struktur sel
c.       Pengolahan dapat meningkatkan bioavaibilitas dan juga dapat menghancurkannya
5.       Efektor absorbsi dan biokonversi
a.       Protein: menstabilkan emulsi lemak, meningkatkan pembentukan misel, dan penyerapan karotenid
b.      Lecitin: mendukung pembentukan misel dan penyerapan karotenoid
c.       Lemak : kebutuhan minimum untuk absorbsi karotenoid yaitu 5 g/makanan
d.      Serat makanan: menurunkan absorbsi karotenoid
6.       Status gizi
a.       Bioavaibilitas kemungkinan besar tergantung pada status vitamin A
b.      Asupan b-karoten saat ini dan sirkulasi level b-karoten menghambat biokonversi karotenoid
c.       Status protein yang rendah atau kekurangan zinc akan mempengaruhi penyerapan b-karoten dan biokonversi ke retinol
d.      Status protein yang rendah atau kekurangan zinc mungkin juga mempengaruhi sintesis retinol binding protein (RBP)
7.       Faktor Genetik
a.       Sindrom malabsorbsi lemak mengurangi absorbsi karotenoid
b.      Kegagalan memecah b-karoten jarang terjadi pada manusia, namun dapat memicu carotenemia atau kekurangan vitamin A
c.       Perbedaan inter-personal dapat dijelaskan melalui pencernaan suplemen atau perbedaan konsumsi
8.       Faktor dalam diri
a.       Jenis Kelamin: respon di dalam serum (wanita > laki-laki), mungkin disebabkan karena perbedaan berat badan dan komposisi
b.      Umur: belum terbukti
c.       Penyakit: ketika terjadi malabsobrsi lemak atau maldigestion (mal-pencernaan)
9.       Interaksi
a.       Semua faktor yang disebutkan di atas dapat berinteraksi satu sama lain
                b.    Pengurangan efek penghambat mungkin dapat meningkatkan yang lain



Faktor yang mempengaruhi penyerapan Besi:
1.       Faktor Diet
a.       Enhancer : asam askorbat, daging, unggas, ikan, seafood, rendah pH
b.      Inhibitor: fitat, polifenol (mis: tanin), kalsium
2.       Faktor Tubuh
a.       Eksposisi besi yang lebih awal pada sel mukosa (kontrol jangka pendek)
b.      Simpanan besi pada tubuh (kontrol jangka panjang)
c.       Laju pembentukan darah merah (erythropoesis)
d.      Status kesehatan (infeksi, malabsorpsi)
e.      Hipoksia jaringan
Interaksi antara zat besi dan mikronutrien yang lain
Di dalam rantai makanan
Ca, Ni
Di dalam saluran lumen GI
Ca, Zn, Mn, Cu, Co
Transpor serosal
Vit B2 , ca
Erythropoesis
Vit A, B2 , Cu

Peran zat besi dalam sistem imunitas
Ø  Kekurangan zat besi
·         Meningkatkan resistensi terhadap malaria
·         Menurunkan aktivitas mikrobiologi
·         Menurunkan imunitas pada mediasi sel
Ø  Kelebihan zat besi
·         Meningkatkan kerentanan terhadap beberapa infeksi
·         Melemahkan kemampuan menyerap fagositosis

Resiko suplementasi zat besi
·         Penurunan pertahanan melawan infeksi
-          Fe meningkatkan pertumbuhan bakteri
-          Retikulosit meningkatkan pertumbuhan plasmodia malaria
·         Meningkatkan pembentukan radikal bebas
  
Faktor yang mempengaruhi bioavability zat besi
1.       Zat besi (heme / non heme) atau intake zinc
-       Zat besi heme > non heme
2.       Status gizi individu
-       Status zat besi yang rendah dapat meningkatkan absorpsi
3.       Phytate
-       Phytate terbentuk dari kompleks zat besi, phytate, dan protein yang tidak larut air dan atau tidak tercerna
-       1-2% phytate à 2-5% absorpsi zat besi
-       0,1% phytate à meningkatkan 2X lipat penyerapan Fe
-       0,01% phytate à meningkatkan 5X lipat penyerapan Fe
4.       Polyphenol
-       Terbentuk dari kompleks iron-tannate tidak larut air
# 1 cangkir teh atau kopi menurunkan absorbsi Fe sampai 30%
# dosis ikut berpengaruh
-       Gugus Galloyl + 3 gugus hydroxsil yang berdampingan adalah struktur utama pada polyphenol yang mengikat iron
-       Kopi dipengaruhi dari asam chlorogenic
5.       Jumlah dan kualitas protein
-       Kacang kedelai dan kacang-kacangan menghambat penyerapan zat besi non-heme
-       Daging, ikan, dan unggas meningkatkan penyerapan zat besi
6.       Asam Organik
-       Vitamin C à dibutuhkan ratio molar (4:1) (Vit C : Fe)
-       Asam organik yg lain: asam sitrat, asam malat, asam tartarat, dan asam laktat

Faktor yang mempengaruhi bioavability zinc
1.       Jumlah zinc dalam makanan
·           Fraksi penyerapan Zn menurun dg meningkatnya jumlah zinc dalam makanan
2.       Status Zinc
-          Status yang rendah akan meningkatkan absorbsi
# diet: 5.5 mg/hari à 53% absorpsi
# diet: 16.5 mg/hari à 25% absorbsi
3.       Phytate
-          Absorpsi Zn berkorelasi terbalik dengan kandungan fitat (tdk terdapat efek ambang batas yg nyata)
-       1-2% phytate à 2-10% absorpsi Zn
-       0,1% phytate à meningkatkan 2X lipat penyerapan Zn
-       0,01% phytate à meningkatkan > 2X lipat penyerapan Zn
4.       Jumlah dan kualitas Protein
-       Fraksi absorpsi Zn meningkat selaras dg meningkatnya konten protein
-       Protein hewani dapat menghambat efek fitat
Absorbsi Kalsium
·         Tergantung pada vitamin D (Ca binding protein di dalam sel epitel usus)
·         Absorpsi tergantung kebutuhan (tinggi pada saat pertumbuhan, kehamilan, dan laktasi)
·         Bioavaibility menurun karena: phytate, oksalat, wheat brain, menurunnya level estrogen (postmenopause)

Absorbsi 50%
Kembang kol, selada air, kecambah brussel, rutabaga, kubis, bok coy, brokoli, lobak hijau
Absorbsi 30%
Susu, susu kedelai yang difortifikasi kalsium, tofu dg kalsium
Absorbsi 20%
Almond, biji wijen, kacang pinto
Absorbsi 5%
Bayam, rhubarb (kandungan air tinggi), bit/lobak swiss, ubi jalar



sumber:
Pustaka: slide Kuliah. Dr. Rimbawan (Senin, 3 Mei 2010)
Gambar : http://arunals.files.wordpress.com/2009/11/ee75fc96-c337-4ef8-99f1-509ea70c1022.jpg

2 comments:

  1. waaahh...sangat membantu sekali anita ^_^
    met belajar dan met ujian ya...

    ReplyDelete
  2. oke rina,,,sama2,,,ada yang versi 2nya lebih lengkap...^^

    ReplyDelete