Pandu Bangun-Bangun untuk Indonesia


Pramuka! Rasanya sudah lama sekali tidak berinteraksi menjadi Pandu Pramuka aktif. Terakhir kali adalah pada waktu kelas 2 SMA, sekitar tahun 2005, pada acara Lomba Ketangkasan dan Keterampilan (LKK) yang diadakan oleh Pramuka SMA Negeri 1 Salatiga setiap dua tahun sekali. Kegiatan itu bertujuan sebagai wadah pengembangan kreativitas dan kemampuan kader Pramuka. Kegiatan tersebut melibatkan peserta dari SMA/SMK/MA se-Kota Salatiga. Namun, moment Pramuka yang paling berkesan bagi penulis adalah pada saat upacara peringatan Hari Pramuka 14 Agustus 2000. Pada saat itu penulis masih kelas 5 SD dan ditunjuk untuk menghafal dan menyatakan kembali Dasa Dharma Pramuka. Sungguh, suatu kehormatan yang masih terkesan sampai saat ini.
Salah satu Dasa Dharma yang menarik adalah Dasa Dharma ketiga, yaitu Patriot yang sopan dan ksatria. Sempat, terpikir bahwa yang dikatakan patriot dan ksatria haruslah berprofesi sebagai TNI, ABRI, atau Polisi. Segala yang berhubungan dengan militer dan perang. Ternyata, salah besar. Bukan itu.

Menurut Maftuh (2009)[1], Patriot berarti putra tanah air, sebagai seorang warga Negara Republik  Indonesia, seorang Pramuka adalah putra yang baik, berbakti, setia dan siap siaga membela tanah airnya. Sedangkan Ksatria adalah orang yang gagah berani dan jujur. Ksatria juga mengandung arti kepahlawanan, sifat gagah berani dan jujur. Jadi, kata ksatria mengandung makna keberanian, kejujuran, dan kepahlawanan. Seorang Pramuka yang mematuhi dharma ini, bersama-sama dengan warga Negara yang lain mempunyai satu kata hati dan satu sikap mempertahankan tanah airnya, menjunjung tinggi martabat bangsanya.
Baden Powell menyatakan bahwa sekali mengucapkan sumpah Pandu, maka seumur hidupnya menjadi Pandu. Dari pernyataan itu, penulis berpikir bahwa alangkah rendahnya, jika penulis hanya berhenti begitu saja sebagai Pandu. Dalam agama penulispenulis diajarkan untuk amanah dan menepati janji. Pramuka tidak berhenti hanya pada kegiatan penggalang atau kemah, dan mengenakan seragam khas Pramuka. Tetapi, lebih bagaimana kita menanamkan nilai-nilai itu. Pramuka mengajarkan kepada kita untuk senantiasa mencintai tanah air. Sudahkan kita mengamalkannya? Ingat, janji pandu yang kita ucapkan dulu, masih menjadi tanggung jawab kita untuk dipenuhi.
Penulis memang bukan pengurus Pramuka, tetapi setidaknya penulis ingin melakukan pengabdian dan pemenuhan janji Pramuka yang penulis aplikasikan melalui ilmu yang sedang penulis tekuni. Sifat Patriot dan Ksatria yang bisa penulis tunjukkan adalah dengan mengaplikasikan ilmu penulis agar berguna untuk orang lain, disamping untuk diri sendiri. Pandu Bangun-bangun. Begitulah penulis menyebut diri penulis saat ini. Mengapa?
Bermula pada kekaguman terhadap Drh. Rizal Damanik, MRepSc, PhD dengan sifat patriot dan ksatrianya terhadap Indonesia. Terbukti bahwa Doktor lulusan Monash University, Melbourne, Australia ini senantiasa mengabdikan ilmu dan dirinya demi kemajuan bangsa. Berangkat dari pengangkatan kekayaan alam Indonesia, Torbangun, sebagai penelitian dalam upaya meningkatkan produksi ASI dan status gizi bayi. Beliau telah mampu mengaplikasikan ilmunya, untuk masyarakat, khususnya ibu menyusui. Dan, mempromosikan kekayaan alam Indonesia ke kancah Internasional melalui jurnal-jurnal ilmiah dan beberapa kesempatan menjadi speaker di beberapa konferensi Internasional.  Orang Simalungun biasa menyebut tanaman ini dengan nama Torbangun atau Tarbangun. Sedangkan orang Batak Toba atau Karo menyebut tanaman ini dengan Bangun-bangun (Damanik et al. 2001)[2]. Masih  menurut Damanik et al. (2001)[3], dalam bahasa Simalungun ’bangun’ berarti bangkit. mereka percaya bahwa ibu yang baru melahirkan pasti lemah dan membutuhkan kekuatan untuk penyembuhan. Pemberian tanaman torbangun dapat mengembalikan kondisi ibu ke kondisi yang seimbang. Selain itu daun torbangun telah digunakan oleh masyarakat Batak Sumatera Utara sebagai makanan yang dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas ASI serta status gizi anak yang dilahirkan (Damanik 2005)[4]. Diketahui kemudian bahwa zat aktif tersebut adalah laktagogum. Selain laktagogum, torbangun juga mengandung mineral yang sangat dibutuhkan tubuh. Misalnya, kalsium, besi, dan magnesium.
Kekaguman penulis tidak hanya sampai di situ. Tetapi, beliau juga berkenan untuk senantiasa mendorong mahasiswanya untuk menjadi patriot dan ksatria sesungguhnya bagi Indonesia melalui aplikasi ilmu yang menjadi keahlian mahasiswa. Bahwa mahasiswa Indonesia memiliki hak dan kesempatan yang sama besarnya dengan negara lain untuk beraksi pada kancah internasional. Asal ada kemauan, tekad, dan niat yang kuat. Kita mampu bersaing dengan negara lain untuk menjunjung harkat dan martabat bangsa Indonesia. Saatnya yang muda yang berkarya bukan?
Dasa Dharma Pramuka yang lain menyebutkan bahwa kita harus rajin, disiplin, dan bekerja keras. Dari situlah, terdorong keinginan kuat untuk terus berkarya. Dalam kesempatan poster presentation di Bangkok, Thailand, 6 – 8 Juni 2011 di acara 7th Asia Pacific Conference on Clinical Nutrition (APCCN)penulis di bawah bimbingan Dr. Rizal Damanik, membawa penelitian hasil bumi Indonesia ke lingkup Internasional. Yaitu, umbi garut dan torbangun. Developing of Arrowroot Starch (Arrowroot arundinaceae L) Cookies by Adding Torbangun (Coleus amboinicus Lour) as Micronutrient Source.
Mungkin, dewasa ini, tidak banyak yang tahu tentang umbi garut dan torbangun. Tentu, masih sedikit yang memanfaatkannya, terutama dalam dunia kesehatan. Kondisi inilah yang menjadi latar belakang penelitian ini. Untuk mengenalkan kepada masyarakat Indonesia bahwa sesungguhnya masih banyak kekayaan alam Indonesia yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Misalnya, penggunaan umbi-umbian di Indonesia, bisa menjadi salah satu upaya diversifikasi pangan guna menyongsong ketahanan pangan yang matang. Sumber karbohidrat bukan hanya beras, tetapi juga umbi-umbian. Maka, hal ini akan bisa membantu mengurangi ketergantungan beras yang berlebihan. Juga, umbi-umbian bisa diolah menjadi tepung, sehingga bisa mengurangi ketergantungan impor gandum.
Selain dari kandungan gizi yang menjadi tujuan utama pembuatan pangan fungsional, pemanfaatan bahan pangan lokal  dapat menjadi batu loncatan untuk kesejahteraan petani. Petani dapat membuka lahan dengan berbagai macam bahan pangan lokal. Industri kecil juga bisa menjadi peluang usaha bagi masyarakat., sehingga diperoleh kemandirian. Dari bumi Indonesia, untuk rakyat Indonesia, Jayalah Indonesia!
Tidak perlu menunggu klaim bangsa lain atas kekayaan kita untuk peduli dengan kekayaan alam Indonesia. Tidak juga harus banyak menuntut tentang kondisi Indonesia saat ini. Tapi, tanyakan pada diri sendiri apa yang sudah kita lakukan untuk Indonesia? Tidak perlu dimulai dengan hal besar untuk menuju perubahan yang lebih baik. Tetapi, lakukan perubahan itu dari hal kecil, diri sendiri, dan saat ini. Inilah kesan dan upaya Pandu Pramuka yang penulis dapatkan. Kalau kamu?



[1] Maftuh AM. 2009. Buku Pegangan Pembina Pramuka. Cimahi: Mts Darussalam
[2] Damanik et al. 2001. Consumption of bangun-bangun leaves (Coleus amboinicus Lour) to increase breast milk production among Batakneese women in North Sumatra Island. Indonesia. Proceedings of the Nutrition Society of Australia: 25
[3] ___________. 2001. Tradisi Sukubangsa Batak Simalungun Mengkonsumsi Daun Bangun-Bangun (Coleus amboinicus Lour) untuk Meningkatkan Produksi ASI Dalam L Nuraida dan RD Hariyadi (Eds.) Prosiding Seminar Nasional Pangan Tradisional dan Suplemen (hal 1-6). Bogor: Pusat kajian makanan Tradisional IPB.

[4] ___________. 2005. Effect of consumption of torbangun soup (Coleus amboinicus Lour) on Micronutrient intake of the Bataknese Lactating women. Media Gizi dan Keluarga. Vol 29 No.1.

1 comment:

  1. Bloqnya udah bagus nit. tp, kurang gambar torbangunnya---> agar pengunjung bloq tahu bahwa daun torbangun (tanaman Indo) mempunyai khasiat yg besar. ;-)

    ReplyDelete