Diet Cinta untuk ODHA

Pasien HIV/AIDS seringkali menjadi penderita yang sangat didiskriminasikan oleh banyak orang. Dicap sebagai seorang yang “kotor” dan makhluk dari “lembah hitam.” Padahal Sobat, tidak selamanya pasien HIV/AIDS menderita karena “kesalahan” mereka sendiri. Seperti beberapa kasus yang dialami beberapa sahabat kita, mereka tertular karena keturunan dari orang tuanya. Mereka tidak menginginkan hal tersebut, jika boleh memilih. Tapi, apakah kita berhak menghakimi? Sudah “bersih”-kah kita sehingga berhak mendiskriminasikan mereka? Tanyakan pada hati nurani kita ya, Sobat.

Alasan yang seringkali digunakan terkait pembenaran diskriminasi adalah takut tertular. Sobat, penyakit HIV/AIDS bukanlah suatu penyakit yang dengan mudah tertular hanya karena kita berdekatan dengan pasien penderita HIV/AIDS. Hanya jarum suntik, silet, transfusi darah, ibu hamil dan menyusui terhadap bayinya serta hubungan seksualitas dengan sesama penderita HIV/AIDS yang dapat menularkan virus tersebut. Sobat, tidak ada yang perlu kita khawatirkan bersahabat dengan penderita HIV/AIDS. Justru, dukungan kita bisa menjadi obat yang mujarab lho sobat untuk mereka. Dukungan kita bisa memberikan kepada mereka kekuatan moral juga kepedulian kita bisa menguatkan mental mereka. Salah satunya, bisa dengan membagi ilmu pengetahuan kita ke mereka.Sobat, kepedulian kita terhadap mereka bisa dimulai dari hal yang kecil. Misalnya, mengenai status gizi dan diet atau pola pengaturan makanan mereka. Sobat, gangguan gizi memegang peranan penting dalam pathogenesis penyakit HIV/AIDS sehingga terapi diet memegang peranan penting dalam upaya penyembuhan penyakit ini. Yuk, saatnya kita peduli \(^o^)/
Tujuan Umum Diet HIV/AIDS:
1. Memberikan intervensi gizi secara cepat dengan mempertimbangkan seluruh aspek dukungan gizi pada semua tahap dini penyakit infeksi HIV.
2. Mencapai dan mempertahankan berat badan serta komposisi tubuh yang diharapkan, terutama jaringan otot (Lean Body Mass).
3. Memenuhi kebutuhan energy dan semua zat gizi.
4. Mendorong perilaku sehat dalam menerapkan diet, olahraga dan relaksasi.
Tujuan Khusus Diet HIV/AIDS:
a) Mengatasi gejala diare, intoleransi lakstosa, mual dan muntah.
b) Meningkatkan kemampuan untuk memusatkan perhatian, yang terlihat pada : pasien dapat membedakan antar gejala anorexia, perasaan kenyang, perubahan indera pengecap dan kesulitan menelan.
c) Mencapai dan mempertahankan berat bdan normal.
d) Mencegah penurunan berat badan yang berlebihan (terutama jaringan otot).
e) Memberikan kebebasan pasien untuk memilih makanan yang adekuat yang sesuai dengan kemampuan makan dan jenis terapi yang diberikan.
Syarat Diet HIV/AIDS:
1. Energi tinggi. Pada perhitungan kebutuhan energi, diperhatikan faktor stress, aktifitas fisik dan kenaikan suhu tubuh. Tambahkan energi sabanyak 13% untuk setiap kenaikan suhu 10 C.
2. Protein tinggi, yaitu 1,1-1,5 g/Kg BB untuk memelihara dan mengganti jaringan sel tubuh yang rusak. Pemberian protein disesuaikan bila ada kelainan ginjal dan hati.
3. Lemak cukup, yaitu 10-25% dari kebutuhan energi total. Jenis lemak disesuaikan dengan toleransi pasien. Apabila ada malabsorbsi lemak digunakan lemak dengan ikatan rantai sedang (Medium Chain Trigliserida/MCT). Minyak ikan (Asam Lemak Omega3) diberikan bersama minyak MCT dapat memperbaiki fungsi kekebalan.
4. Vitamin dan mineral tinggi, yaitu 1½ kali (150%) angka kecukupan gizi (AKG) yang dianjurkan, terutama vitamin A, B12, C, E, Folat, Kalsium, Magnesium, Seng dan Selenium.
5. Serat cukup, gunakan serat yang mudah cerna 25 g/hari.
6. Cairan cukup, sesuai dengan keadaan pasien. Pada pasien dengan gangguan fungsi menelan, pemberian cairan harus hati-hati dan diberikan bertahap dengan konsistensi yang sesuai. Konsistensi cairan dapat berupa cairan kental (Thick fluid), semi kental (Semi thick fluid) dan cair (Thin fluid).
7. Elektrolit. Kehilangan elektrolid melalui muntah dan diare perlu diganti (Natrium, Kalium dan Klorida).
8. Bentuk makanan dimodifikasi sesuai dengan keadaan pasien. Hal ini sebaiknya dilakukan dengan cara pendekatan perorangan, dengan melihat kondisi dan toleransi pasien. Apabila terjadi penurunana berat badan yang cepat, maka dianjurkan pemberian makanan melalui pipa atau sonde sebagai makanan utama atau makanan selingan.
9. Makanan diberikan dalam porsi kecil dan sering.
10. Hindari makanan yang merangsang pencernaan baik secara mekanik, termik maupun kimia
Jenis Diet dan Indikasi Pemberian
Diet AIDS diberikan pada pasien akut setelah terkena infeksi HIV, yaitu kepada pasien dengan :
1) Infeksi HIV positif tanpa gejala.
2) Infeksi HIV dengan gejala (misalnya : panas lama, batuk, diare, kesulitan menelan, sariawan dan pembesaran kelenjar getah bening).
3) Infeksi HIV dengan gangguan syaraf.
4) Infeksi HIV dengan TBC.
5) Infeksi HIV dengan Kanker dan HIV Wasting Syndrome.
Makanan untuk pasien AIDS dapat diberikan melalui tiga cara, yaitu secara oral, enteral (sonde) dan parenteral (infuse). Asupan makanan secara oral sebaiknya dievaluasis secara rutin. Bila tidak mencukupi, dianjurkan pemberian makanan enteral atau parenteral sebagai tambahan atau sebagai makanan utama.
Ada tiga macam diet AIDS yaitu Diet AIDS I, II dan III.
1) Diet AIDS I
Diet ini diberikan pada pasien infeksi HIV akut, dengan gejala panas tinggi, sariawan, kesulitan menelan, sesak nafas berat, diare akut, kesadarn menurun, atau segera setelah pasien dapat diberi makan.
Makanan berupa cairan dan bubur susu, diberikan selama beberapa hari sesuai dengan keadaan pasien, dalam porsi kecil setiap tiga jam. Bila ada kesulitan menelan, makanan diberikan dalam bentuk sonde atau dalam bentuk kombinasi makanan cair dengan makanan sonde. Makanan sonde dapat dibuat sendiri atau menggunakan makanan enteral komersial energy dan protein tinggi. Makanan ini cukup Energy, Zat besi, Tiamin dan Vitamin C. Bila dibutuhkan lebih banyak energi dapat ditambahkan glukosa polimer (misalnya Poyijoule).
Contoh Makanan Cair Oral:

Bahan Makanan
Berat (g)
URT
Susu Whole Bubuk
200
40 sdm
Tepung maizena / kcng hijau / beras / havermout
100
20 sdm
Telur ayam
150
3 butir
Margarin / minyak
25
2,5 sdm
Gula pasir
100
10 sdm



Pembagian Waktu Makan Sehari:

06.00 Susu
16.00 Bubur susu
07.00 Susu
20.00 Bubur Susu
10.00 Bubur Havermout
21.00 Susu
13.00 Bubur susu


Kandungan Gizi

Kandungan Gizi

Energi (kkal)
2207
Protein (g)
73
Lemak (g)
103
Karbohidrat (g)
251
Kalsium (mg)
190
Besi (mg)
6,4
Vitamin A (RE)
1361
Tiamin (mg)
0,7
Vitamin C (mg)
12



2) Diet AIDS II

Diet ini diberikan sebagai perpindahan Diet AIDS I setelah tahap akut teratasi. Makanan diberikan dalam bentuk saring atau cincang setiap tiga jam. Makanan ini rendah nilai gizinya dan membosankan. Untuk memenuhi kebutuhan energy dan zat gizi diberikan makanan enteral atau sonde sebagai tambahan atau sebagai makanan utama.
Pembagian Makan Sehari:
Pagi:                                                                 Siang / Malam:
Tepung Beras = 50 g = 8 sdm                            Beras = 30 g = 1 gls bubur
Telur ayam = 50 g = 1 btr                                  Daging = 50 g = 1 ptg sdg
Tahu = 25 g = 1/4 bh bsr                                   Tahu = 25 g = 1/2 bh bsr
susu = 200 g = 1 gls                                           Sayuran = 50 g = 1/2 gls
gula pasir = 10 g = 1 sdm                                   Pepaya = 100 g = 1 ptg sdg
                                                                         Margarin = 15 g = 1,5 sdm
Pukul 10.00                                                     Pukul 16.00 
Telur ayam = 50 g = 1 btr                                 maizena = 15 g = 3 sdm (Puding Maizena)
Susu = 200 g = 1 gls                                         susu = 200 g = 1 gls
Gula pasir = 10 g = 1 sdm                                Gula pasir = 30 g = 3 sdm
Pukul 20.00
Susu = 200 g = 1 gls
Gula Pasir = 10 g = 1 sdm
Kandungan Gizi

Kandungan Gizi

Energi (kkal)
1900
Protein (g)
72
Lemak (g)
83
Karbohidrat (g)
223
Kalsium (mg)
1300
Besi (mg)
25,6
Vitamin A (RE)
2940
Tiamin (mg)
0,8
Vitamin C (mg)
176

Contoh Menu:
Pagi : Bubur sumsum, telur 1/2 masak, susu, jus tomat
Selingan 1 (10.00) : telur dan susu
siang: Bubur, Semur daging/gadon daging, semur tahu, tumis sayur, jus pepaya
Selingan 2 (16.00) : Puding Maizena
malam: Bubur, sup bola-bola ikan, perkedel tahu, sup wortel+buncis, Pisang
3) Diet AIDS III
Diet ini diberikan sebagai perpindahan dari Diet AIDS II atau kepada pasien dengan infeksi HIV tanpa gejala. Bentuk makanan lunak atau biasa, diberikan dalam porsi kecil dan sering. Diet ini tinggi energi, protein, vitamin dan mineral. Apabila kemamuan makanan melalui mulut terbatas dan masih tejadi penurunan berat badan, maka dianjurkan pemberian makanan sonde sebagai makanan tambahan atau sebagai makanan utama.
Contoh Menu:

Waktu
Makanan Lunak
Makanan Biasa
Pagi
Bubur Havermout
Nasi

Telur ½ masak
Telur dadar

susu
Setup buncis+wortel
10.00
Puding karamel
Bubur kacang hijau
Siang
Bubur nasi
Nasi

Semur daging
Ikan goreng

Orak-arik telur
Telur bumbu rendang

Tumis tempe
Perkedel tahu

Setup wortel
Sayur sop

Jus tomat
Pepaya
16.00
Sirup
Sirup
Malam
Bubur nasi
Nasi

Sup daging + tomat
Empal daging

Tim tahu
Oseng-oseng tempe

Sayur bening bayam
Tumis kangkung

Pepaya
Pisang


Pembagian Makan Sehari:
Pagi:                                                                 Siang / Malam:
Beras = 50 g = 1/2 gelas nasi                             Beras = 150 g = 2 1/4 gls nasi
Telur ayam = 50 g = 1 btr                                  Daging = 50 g = 1 ptg sdg
sayuran = 50 g = 1/2 gelas                                 Tempe = 50 g = 2 ptg sdg
susu = 200 g = 1 gls                                           Sayuran = 75 g = 3/4 gls
gula pasir = 10 g = 1 sdm                                   Pepaya = 75 g = 3/4 ptg sdg
minyak = 5 g = 1/2 sdm                                     Minyak = 10 g = 1,5 sdm
Pukul 10.00                                                     Pukul 16.00 
Kacang Hijau = 25 g = 2,5 sdm                         Gula pasir = 10 g = 1 sdm (teh/ sirup/ kopi)
Gula pasir = 10 g = 1 sdm                              
Kandungan Gizi

Kandungan Gizi

Energi (kkal)
2530
Protein (g)
90
Lemak (g)
65
Karbohidrat (g)
387
Kalsium (mg)
673
Besi (mg)
27,9
Vitamin A (RE)
29502
Tiamin (mg)
1,2
Vitamin C (mg)
145

Bahan Makanan yang Dianjurkan dan Tidak Dianjurkan

Bahan Makanan
Dianjurkan
Tidak Dianjurkan
Karbohidrat
Semua bahan makanan kecuali yang menimbulkan gas
Bahan makanan yang menimbulkan gas
Protein Hewani
Susu, telur, daging dan ayam tidak berlemak, ikan
Daging dan ayam berlemak, kulit ayam
Protein Nabati
Tempe, tahu, kacang hijau
Kacang merah
Lemak
Minyak, margarin, santan, dan kelapa dalam jumlah terbatas
Semua makanan yang berlemak tinggi (digoreng, santan kental)
Sayuran
Sayuran yang tidak menimbulkan gas seperti labu kuning, wortel, bayam, kangkung, buncis. Kacang panjang, dan tomat
Sayuran yang menimbulkan gas seperti kol, sawi, dan ketimun.
Buah-buahan
Pepaya, pisang, jeruk, apel, dsb
Buah-buahan yang menimbulkan gas seperti nangka, durian
Bumbu
Bumbu yang tidak merangsang seperti bawang merah, bawang putih, daun salam, ketumbar, laos, kecap
Bumbu yang merangsang seperti cabe, lada, asam, cuka
Minuman
Sirup, teh, kopi
Minuman bersoda dan mengandung alkohol



















































Nah, Sobat, kita sudah tahu bagaimana diet yang baik untuk Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Saatnya kita peduli sobat. Karena kepedulian kita akan membawa sejuta manfaat untuk mereka.

Sumber: Almatsier S. 2008. Penuntun Diet Edisi Baru. Jakarta: Gramedia











3 comments:

  1. Hello, makasih postingannya,
    Tapi masih ada beberapa syarat yang belum lengkap. Silakan dibaca lagi di http://www.vivanews.com/aids_govlog

    Salam, Admin

    ReplyDelete
  2. Sebagai data pribadi lomba govlog mohon di isi form di bawah ini:
    Nama Lengkap:
    Jenis Kelamin:
    No tlp/HP (yang bisa dihubungi):
    Email:
    Yahoo Messenger:
    Alamat lengkap:
    Pekerjaan:
    kirim via email izal.ajah(at)yahoo.com , trim's

    ReplyDelete