Osteoporosis Sebabkan Kemandulan

Kesehatan memang bukan segala-galanya, tapi tanpa kesehatan kita tidak bisa melakukan segala-galanya. Satu kalimat panjang yang semoga bisa memberikan sedikit pencerahan tentang pentingnya kesehatan bagi kita. Betapa kita akan mensyukuri nikmat sehat pada saat kita jatuh sakit bukan? Sobat, zaman sudah berubah. Bukan saatnya lagi kita curative oriented atau orientasi pada penyembuhan suatu penyakit. Akan tetapi, sudah saatnya kita berorientasi pada pencegahan (Preventive Oriented) masalah kesehatan. Kesehatan memang mahal harganya, akan tetapi lebih mahal biaya pengobatan rumah sakit bukan? Kerugian waktu yang tak terbayarkan, keterbatasan aktivitas, juga banyak hal lainnya yang tidak dapat kita lakukan pada saat sakit. Hanya akan mengurangi produktivitas kita. Yup! Alias membuat kita mandul. Salah satunya adalah Osteoporosis. Osteoporosis dapat sebabkan kemandulan. Hati-hati Sobat, bahkan osteoporosis ini sudah mengincar kaum muda. Tidak mau kan, kehilangan masa depan karena osteoporosis? So, let`s check this out.
Apa itu Osteoporosis?
Semua orang pasti sudah tahu apa itu osteoporosis, sederhananya adalah pengeroposan tulang. Atau secara ilmiah Hughes (2006) menyatakan bahwa osteoporosis adalah kondisi berkurangnya massa tulang dan gangguan struktur tulang sehingga menyebabkan tulang menjadi mudah patah. Jika sudah begitu, pantas saja kita akan menjadi mandul. Mandul di sini berarti adalah mandul dalam hal produktivitas. Misalnya, aktivitas kita terbatas, penghasilan terbatas, dan tabungan pun menjadi terbatas karena biaya pengobatan yang relatif mahal. Hidup cuma sekali, sayang jika hanya dihabiskan dalam keterbatasan saja Sobat. Saat ini, berdasarkan penelitian oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan Depkes bekerja sama dengan PT Fonterra Brands Indonesia (Perusahaan dengan Susu Anlene "Ahli Nutrisi untuk Tulang"), menunjukkan bahwa pada tahun 2005, prevalensi osteoporosis penduduk Indonesia adalah 10,3% (penelitian dilakukan pada penduduk usia dewasa). Sedangkan, penderita osteopenia atau penurunan massa tulang dini mencapai 41,8%.
Osteoporosis BUKAN penyakit orang tua!
Jika saat ini seringkali orang mengabaikan tentang osteoporosis karena dianggap penyakit para manula. Kalian salah besar sobat! Justru, akhir-akhir ini osteoporosis banyak menyerang kaum muda. Tidak percaya? Menurut Rachmawati (2006), hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensinya mencapai 37,1%. Atau istilahnya adalah terserang Osteopenia, yaitu penurunan massa tulang secara dini (lebih awal). Prevalensi Osteopenia sebanyak 37,1% adalah kaum muda yang berumur kurang dari 25 tahun. Nah? Sayang sekali bukan? Ibarat bunga, usia muda (para pemuda) adalah bunga yang sedang mekar-mekarnya. Fase terbaik dalam menghasilkan nektar dan menarik sang kumbang. Kalau sudah patah tulang, apa bisa dikata? Osteopenia menyebabkan kemandulan! Mandul dalam produktivitas dan meningkatkan kesejahteraan diri. Anyone?
Silent Disease
Penurunan massa tulang berlangsung secara perlahan dan tidak menimbulkan gejala sehingga dikenal sebagai silent disease. Gejala baru akan terasa pada osteoporosis lanjut, yaitu patah tulang, nyeri punggung, punggung yang semakin membungkuk, dan kehilangan tinggi badan. Untuk mengetahui secara pasti kondisi tulang kita, kita bisa melakukan pemeriksaan Bone Mineral Density (BMD), bisa menunjukkan kondisi tulang kita, seperti gambar skala BMD di atas. Menurut WHO (1994), kriteria T-Score dibagi menjadi 3, yaitu T-Score >-1 menunjukkan bahwa seseorang dalam kategori normal, T-Score <-1 sampai -2,5 Osteopenia, dan T-Score >-2,5 Osteoporosis. Apabila disertai fraktur, maka orang tersebut termasuk dalam osteoporosis berat.
Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati
Sobat, kita tahu bukan, bahwa osteoporosis ini tergolong silent disease sehingga upaya pencegahan akan lebih baik daripada mengobati. Caranya? Sebelum membahas cara pencegahannya, yuk kita intip dulu Faktor Resiko apa sih yang mengintai kita terserang osteoporosis?
1. Umur : Remaja menjelang usia 20 tahun mengalami pembentukan tulang yang pesat yang merupakan masa persiapan untuk mencapai puncak pertumbuhan massa tulang -peak bone mass pada usia 35 tahun (Mann & Truswell 2007). Semakin bertambahnya umur, maka proses penyerapan tulang daripada pembentukan tulang baru dan massa tulang akan semakin berkurang 0,5 - 1% per tahunnya. Biasanya hal ini akan terjadi setelah masa peak bone mass, yaitu sekitar umur 40 tahun ke atas sehingga reesiko semakin menyerang kaum msikonya semakin meningkat. Namun, asupan nutrisi juga pola hidup yang salah pada saat ini menyebabkan faktor resiko semakin menyerang kaum muda.
2. Jenis Kelamin : Osteoporosis lebih sering terjadi pada wanita sekitar 80% daripada laki-laki 20%. Hal ini disebabkan karena wanita mengalami fase penurunan hormon estrogen yang menyebabkan aktivitas sel osteoblas menurun sedangkan osteoklas meningkat. Hal ini terjadi terutama pada wanita menopouse (Purwoastuti 2008).
3. Keturunan (Riwayat Keluarga/Genetik) : Hal ini mempengaruhi hingga 60-80% keturunan akan mengalami osteoporosis jika di dalam suatu keluarga terdapat riwayat osteoporosis (Mangoenprasodjo 2005).
4. Aktivitas Fisik : Baecke dalam Kamso (2000) menyatakan bahwa aktivitas fisik dapat dibag menjadi 3, yaitu waktu bekerja, olahraga, dan luang. Compston (2002) menyatakan bahwa seseorang yang jarang melakukan aktivitas fisik akan mengakibatkan turunnya massa tulang dan dengan bertambahnya usia terutama pada usia lanjut, otot pun akan menjadi lemah sehingga akan berpeluang untuk timbulnya patah tulang.
5. Kebiasaan Merokok : Hughes (2006) menyakatan dengan merokok, hormon estrogen dalam tubuh akan menurun dan mudah kehilangan massa tulang sehingga lebih besar untuk mengalami fraktur tulang.
6. Kebiasaan Konsumsi Kafein : Kafein yang berlebihan dapat mengahambat penyerapan kalsium yang berarti akan menimbulkan konsekuensi penuruan massa tulang jika terjadi terus menerus. Lane (2003) menyatakan hal ini akan terjadi jika dalam sehari seseorang mengonsumsi kopi sebanyak 6 cangkir kopi atau lebih. Sedangkan Sizer & Whitney (2006) konsumsi kopi 2 gelas/hari pun akan berdampak pada kehilangan kalsium.
7. Kebiasaan Konsumsi Alkohol : Alkohol dapat mengganggu metabolisme vitamin D dan menghambat penyerapan kalsium (Compston 2002).
8. Menopause Dini : Hal ini berkaitan dengan penurunan hormon estrogen.
9. Status Gizi : Seseorang yang memiliki berat badan tidak seimbang dengan tinggi badannya akan berpeluang mengalami osteoporosis lebih besar. Hal ini disebabkan kemampuan tulang dalam menopang tubuh. Indeks Massa Tubuh (IMT) yang baik akan menurunkan resiko ini.
10. Konsumsi Obat : Mengonsumsi obat terlalu sering seperti kortikosteroid akan meningkatkan resiko terkena osteoporosis. karena kortikosteroid menghambat kerja pembentukan tulang dan dapat menurunkan massa tubuh (Putri 2009).
11. Kurang Konsumsi Kalsium :  Gopalan (1994) menyatakan bahwa konsumsi kalsium yang cukup sebaiknya sudah dimulai sejak remaja karena akan dijadikan simpanan dalam tubuh sampai lansia. Kebutuhan kalisum remaja baik putra maupun putri (10-18 tahun) adalah 1000 mg/hari, sedangkan 19 tahun ke atas adalah 800 mg/hari (WKNPG 2004). Namun konsumsi kalsium ini masih kurng, penelitian Fikawati et al. (2003) menunjukkan bahwa konsumsi kalsium remaja SMU di Bandung hanya 394,7 mg/hari atau 517mg/hari dengan ditambah suplemen. Sumber kalsium dapat diperoleh dari susu dan produk olahanyya seperti keju, yogurt, dll. Serta dari tulang seperti tulang ikan, ayam, sumsum sapi, dll. Juga terdapat pada sayuran hijau.
12. Kurangnya Konsumsi Vitamin D : Vitamin D dapat memiliki peranan penting dalam pemeliharaan dan pertumbhan tulang (Nix 2005). Pada daerah tropis, vitamin D dapat diperoleh dari sinar matahari. Bisa juga didapatkan dari makanan seperti susu dan olahannya, ikan salmon, minyak ikan, sarden, telur, dll (Rosenverg 2000). Kebutuhan vitamin D usia 10-49 tahun baik laki-laki maupun perempuan 5 mikrogram/hari, 49-64 tahun 10 mikrogram/hari, sedangkan 65 tahun ke atas 15 mikrogram/hari.
13. Kurangnya Konsumsi Fosfor : Fosfor dapat membantu penyerapan kalsium jika terdapat di dalam tubuh dengan perbandingan 1:1 hingga 2:1 (kalsium : fosfor). Perbandingan yang melebihi itu justru akan menghambat penyerapan kalsium. Kebutuhan fosfor remaja putra dan putri (10-18 tahun) adalah 1000 mg/hari, sedangkan 19 tahun ke atas 600 mg/hari (WKNPG 2004).
14. Kurangnya Konsumsi Protein : Konsumsi protein yang baik adalah 10-15% dari kebutuhan kalori sehari. Konsumsi protein yang berlebihan justru dapat memicu terjadinya osteoporosis. Dawson-Hughes (2006) menyatakan bahwa asam yang dihasilkan pada metabolisme protein akan dtahan di tulang dan terjadilah pelepasan kalsium melalui urin.
Sobat, beberapa faktor resiko telah kita ketahui, nah. Bagaimana pencegahannya?
1. Mengurangi Faktor Resiko : Maksudnya adalah dengan menghindari kebiasaan merokok konsumsi alkohol, kafein, obat-obatan steroid, dll. Mulai dengan gaya hidup yang sehat ya Sobat.
2. Cukupi Kebutuhan Nutrisi : Meliputi asupan kalsium, fosfor, protein, vitamin D, dan konsumsi nutrisi yang lain. Juga perhatikan tingkat kebutuhan sesuai yang dianjurkan sehingga tidak terjadi malnutrisi.
3. Olahraga teratur : Olahraga yang baik dilakukan adalah olahraga yang teratur dan sesuai dengan kondisi atau kemampuan tubuh. Sebaiknya dilakukan minimal 3x seminggu lakukan secara rutin selama 15 - 30 menit. Untuk mendapatkan vitamin D dari sinar matahari, maka keluarlah (jogging atau sekedar duduk) di antara pukul 06.00-09.00 atau 15.00-18.00 selama 10-15 menit/hari.
Nah, Sobat, bagaimana? Sudah siapkan menghalau kemandulan di masa muda? Sayang sekali bukan. Jika produktivitas kita terhambat karena osteoporosis. Selain akan menurunkan eksistensi kita di bidang yang kita geluti saat ini, juga akan memotong rantai kesuksesan di masa depan. Sssttt, juga menguras aset kita karena biaya pengobatan yang mahal. Ingat, osteoporosis dan osteopenia adalah silent disease yang berarti jauh lebih baik dilakukan pencegahan daripada mengobati. Generasi mandul? No! Generasi Emas Indonesia? Yes! \(^o^)/

Daftar Pustaka:
[1] Hardinsyah, Damayanthi E, Zulianti W. 2008. Hubungan konumsi susu dan kalsium denan densitas tulang dan tinggi badan remaja. Jurnal Gizi dan Pangan, Maret 2008 3(1): 43-48
[2] Prikhatina RA. 2009. Hubungan status gizi, gaya hidup, dan kebiasaan konsumsi kalsium dan vitamin D pada warga usia >= 45 tahun di Taman Wisma Asri Bekasi Utara tahun 2009 [skripsi]. Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitsa Indonesia.
[3] Mulyani E. Konsumsi kalsium pada remaja di SMP 201 Jakarta Barat tahun 2009. FKMUI.

0 komentar:

Post a Comment