Beras Non-Padi Dikembangkan IPB

Pangan tidak lepas dari kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan yang paling hakiki untuk dipenuhi. Semakin bertambahnya penduduk di dunia, semakin bertambah pula kebutuhan akan pangan.  

Penduduk berkembang menurut deret ukur (2, 4, 8, 16 dst) dan bahan pangan berkembang menurut deret hitung (1, 2, 3, 4 dst). Seperti yang terlihat bahwa perkembangan penduduk lebih cepat dibandingkan kebutuhan dasarnya, yaitu pangan. 

Oleh karena itu, sekarang ini, ketahanan pangan menjadi pusat perhatian pemerintah. Ketahanan pangan dalam pengertian pemenuhan kebutuhan pangan, diusahakan agar pangan selalu tersedia setiap saat dan terjangkau harganya oleh masyarakat. Pemenuhan kebutuhan pangan disini bukan hanya jumlah, akan tetapi juga kualitasnya. Dengan demikian, pemenuhan kebutuhan pangan yang beragam sangat penting. Selain untuk mengurangi ketergantungan akan salah satu bahan pangan, juga memenuhi kebutuhan gizi dari aneka ragam bahan pangan.

Salah satu perhatian keanekaragaman pangan Indonesia saat ini adalah mengurangi ketergantungan beras, padi, sebagai sumber karbohidrat. Gerakan konsumsi aneka ragam pangan di Indonesia sudah berkembang pesat, para Pemerintah Daerah mencanangkan visi dan misinya untuk mencintai bahan pangan lokal seperti umbi-umbian, jagung, dan lain sebagainya untuk mengurangi ketergantungan beras. Bahkan Pemerintah kota Depok mencanangkan program Satu Hari Tanpa Beras.

Akan tetapi, tidak semudah membalikkan telapak tangan, program aneka ragam pangan ini tidak sepenuhnya dapat dijalankan oleh masyarakat. Hal ini tentu terkait dengan kebiasaan konsumsi masyarakat. Latar belakang inilah yang mendorong peneliti dan ilmuwan Indonesia, khususnya Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor (Fateta IPB) siap mengembangkan beras yang dibuat dari bahan-bahan campuran non-padi, untuk mendukung program diversifikasi pangan di Indonesia.
Menurut Sam Herodian, pengembangan jenis pangan seperti itu akan lebih mudah diterima oleh masyarakat Indonesia yang sudah terlanjur tergantung pada beras sebagai bahan pangan utama. Beras non-padi ini isinya bisa merupakan campuran dari jagung, umbi-umbian, sorgum dan bahan lainnya berbasis kearifan lokal yang merupakan sumber karbohidrat.

Bahan beras non-padi yang digunakan adalah bahan pangan lokal sehingga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor beras-padi sekaligus menekan impor terigu. Dekan Fateta IPB, Dr Sam, mencontohkan Thailand bisa mengembangkan mie instan yang sebagian besar bahannya bukan dari terigu.

"Kami di Fateta IPB sudah dapat menciptakan 'beras' yang bukan dari padi, tapi bentuknya seperti beras dan bisa ditanak seperti beras biasa," kata Dekan Fateta IPB Dr Ir Sam Herodian dalam acara pertemuan Himpunan Alumni Fateta IPB di Bogor, Sabtu (31/3).

Diharapkan nantinya beras non-padi ini bisa turut berperan dalam upaya memperkokoh ketahanan pangan."Kami siap mengembangkan teknologi pertanian ini, dan mengembangkannya menjadi bisnis yang eksis di masyarakat," katanya. 


Sumber:
Wah, IPB Ciptakan Beras Non-Padi. Media Indonesia, Minggu 1 April 2012.

2 comments:

  1. Do you mind if I quote a couple of your articles as long as I provide credit and sources back to
    your weblog? My blog is in the very same area of
    interest as yours and my users would really benefit from some of the information you provide here.
    Please let me know if this alright with you. Regards!

    my blog post ... Смотреть Кровавый Парень онлайн. 10 серии

    ReplyDelete
  2. I appreciate, cause I discovered just what I used
    to be having a look for. You've ended my 4 day lengthy
    hunt! God Bless you man. Have a great day.
    Bye

    Also visit my homepage Смотреть Мастера Меча Онлайн Cпешлонлайн.

    ReplyDelete