Hukum Donor ASI dalam Islam

       Air susu ibu (ASI) merupakan makanan utama bagi bayi hingga usia 2 tahun. Bahkan hingga bayi berusia 6 bulan, bayi sebaiknya diberikan ASI eksklusif tanpa makanan pendamping maupun susu formula. Praktik donor ASI sudah tidak asing lagi di telinga kita. Bahkan, di luar negeri, ada Bank ASI yang siap menampung dan mendistribusikan ASI kepada yang membutuhkan. Donor ASI memang merupakan alternatif solusi bagi para ibu yang berkomitmen memberikan ASI namun mengalami kendala. Misalnya, ibu cacat sehingga tidak bisa menggerakkan tangan dan kakinya serta ia dirawat di rumah sakit, atau ibu yang dilarang dokter untuk memberikan ASI karena dapat menularkan penyakit pada bayi, dan tentu saja bayi yang ibunya meninggal.

SYARAT KETAT DONOR DAN PENERIMA ASI
          Menurut Farahdhiba Tenrilemba, Sekretaris Jenderal Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), syarat untuk mendapatkan dan memberikan donor ASI harus melewati seleksi yang sangat ketat. 
Pertama, untuk menjadi penerima donor ASI harus memiliki alasan yang sangat kuat mengapa tidak bisa menyusui sendiri. Bukan karena sekedar mau kembali bekerja setelah cuti melahirkan dan tidak memiliki stok ASI, akan melakukan perjalanan keluar kota, pergi haji, umroh, atau kesibukan lain yang menyebabkan ibu tidak bisa menyusui.
Kedua, bagi pendonor ASI harus memastikan dalam keadaan kesehatan yang baik. Jika perlu menggunakan rekam medik dari dokter.
Ketiga, bagi umat Islam, harus memastikan bahwa pendonor ASI tidak mengonsumsi makanan yang haram karena ASI merupakan saripati makanan ibu yang akan tumbuh menjadi daging dan tulang bagi anak yang meminum ASI.
Keempat, memastikan identitas, alamat, dan kontak pendonor bisa dihubungi untuk menghindari terjadinya pernikahan saudara sepersusuan. Menurut ustadzah Dr Hj Mursyidah Tharir, anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), jumhur ulama mengikuti mahzab Imam Syafi'i dan Hanafi yang menyatakan bahwa batasan minum ASI hingga terjadi hukum radha atau sepersusuan adalah lima kali kenyang. Sehingga pendonor dan penerima ASI harus benar-benar memahami hal tersebut. Menghitung berapa kali bayi kenyang dan disusui oleh pendonor, juga alamat dan identitas pendonor yang jelas jikalau terjadi lebih dari lima kali kenyang, maka ibu yang menyusui, suami, dan anak-anak pendonor akan menjadi mahram bagi bayi yang disusui dan tidak boleh menikah selamanya.

HUKUM DONOR ASI
     MUI sendiri menurut Hj Mursyidah, belum mengeluarkan fatwa terkait donor ASI. Mengenai hukum Bank ASI, Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi menyatakan tidak ada nash yang melarangnya, dengan catatan tetap memenuhi kaidah syariat. Fatwa berbeda dikeluarkan oleh Majma Al Fiqh Al Islami, lembaga fiqih internasional yang berada di bawah naungan Organisasi Konferensi Islam (OKI), institusi seperti Bank ASI diharamkan. Alasannya:
1. Donor ASI dapat merancukan nasab akibat saudara sepersusuan yang mungkin menikah
2. Hilangnya sifat keibuan karena ibu tidak menyusui langsung
3. Halangan syariat lainnya seperti ketidakpastian kesehatan dan halal-haramnya makanan pendonor

      Sebenarnya, di Indonesia sendiri menurut Dhiba, Sekjen AIMI, belum ada Bank ASI. Praktik masih terjadi secara tradisional, artinya tidak ada lembaga yang secara khusus menangani donor ASI. Di luar negeri, melalui Bank ASI, pendonor ASI diperiksa kesehatannya dan dipastikan bebas penyakit berbahaya.  ASI kemudian dipasteurisasi dalam suhu rendah (62,5 - 63 derajat celcius) selama 30 menit untuk mematikan bakteri dan virus berbahaya, seperti HIV dan CMV. Selain itu, ASI disimpan di dalam freezer dengan suhu minimal -20 derajat celcius untuk memastikan komposisi ASI tidak mengalami perubahan. Walaupun ASI bisa dipastikan sehat, namun menurut OKI, kita tidak bisa memastikan makanan yang dikonsumsi pendonor sepenuhnya halal, apalagi mayoritas penduduknya adalah non-muslim.

     Sekarang, pilihan ada pada masing-masing ibu. Memang, sebaiknya ibu menyusui sendiri bayinya. Namun, jika terdapat keterbatasan, sebaiknya donor ASI dilakukan secara tradisional, bukan melalui Bank ASI. Sehingga pendonor ASI jelas identitasnya. Sebaiknya pun ibu memilih pendonor ASI yang memang sudah dikenal dan jelas kesehatannya, akan lebih baik lagi jika masih dalam hubungan sanak famili sehingga jelas hubungan kekeluargaannya.


Sumber :
Aini Firdaus. 2012. Halalkah donor ASI?. Majalah UMMI No.12/XXIV/Desember 2012/1434 H

13 comments:

  1. Replies
    1. sebenarnya masih subhat sih kalo pendapatku. Karena ada yang menghalalkan dan mengharamkan :)
      Tapi, aku lebih kepada meninggalkan yang meragukan. Hehehe
      kecuali memang pendonor masih famili, jadi jelas tali persaudaraannya :)

      Delete
  2. lebih setuju kalo menyusui sendiri... he he.. kan ada bonding ke anak.. kalo bener2 ga bisa gimana cara udah ditempuh, mungkin lebih baik nyari yang masih saudara, atau kerabat.. ntar kalo pake bank asi hubungan saudara persusuannya jadi bingung. Wallahu'alam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju sama Aisyah,,,
      tetep berupaya nanti bisa menyusui... Aamiin :)

      Delete
  3. Donor ASI melalui bank jelas dapat merancukan nasab akibat saudara sepersusuan yang mungkin menikah. Kalau sudah begini, secara fiqih sudah jelas hukumnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener pak :)
      Agama itu memang tangguh mengatur kehidupan agar tetap teratur :D

      Delete
  4. Hmmm,,, kalo langsung susu cair Ultramilk aja, enaak.. :|

    ReplyDelete
  5. Nah, itu dia kak.. sangat ngeri kalo banyak sekali donor asi saat ini, takutnya bayi bayi itu nantinya akan keteu dan menikah.. kan haram..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, mbak ria, masih subhat hukum donor asi ini..
      kalo saya lebih memilih kehati-hatian saja, lebih baik kalau mau donor yang memang kita masih saudara saja :)

      Delete
  6. Saya seorang ibu, anak saya full asi sampai 5 bulan. Setelah 5 bulan. ALLAH memanggil putri kami. Stok asi banyak di freezer. Masih bingung mau mendonorkan. Karena soal ibu persusuan ini, mahram, dsb. Di hal lain kalau tidak saya donorkan, merasa mubadzir kalau dibuang. Tetapi sebagai seorang ibu saya juga merasa ''membagi'' cinta kepada bayi lain selain almarhumah putri kami. Any advice?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebelumnya saya ikut berbela sungkawa mbak Elly. Semoga segera diberikan kepercayaan oleh Allah SWT untuk mendapatkan momongan. Aamiin

      "mahzab Imam Syafi'i dan Hanafi menyatakan bahwa batasan minum ASI hingga terjadi hukum radha atau sepersusuan adalah lima kali kenyang"
      Namun, saya belum mengerti dengan batasan 5 kali kenyang ini berapa cc/mL/L. Mungkin lebih baik untuk menanyakan kepada ustad/ustadzah yang lebih mengerti :)

      Kalau ada bayi di antara keluarga mbak/mas yang memang jelas tali kekeluargaannya, saya rasa tidak apa-apa diberikan ASI tersebut :)

      Delete
  7. Demi All0h saya pernah membaca hadits berikut ini, bagaimana dengan hadist rasulullah dalam bukhari muslim,
    ada seorang anak dari kecil biasa keluar masuk rumah sahabat wanita, setelah baligh ia mengadukannya ke rasulullah karena ia terbiasa keluar masuk rumahnya yang dikhawatirkan terlihatnya auratnya maka rasulullah memerintahkannya menyusuinya,,, wanita itu kaget karena anak itu kan sudah baligh,,,
    beliau mengatakan sampai tiga kali,,, dari hadits hadits lain yg berhubungan dengan hadits ini adalah berkata para sahabat ia tidak menyusui langsung tapi dengan menampung asinya dalam wadah dan memberikannya ke anak tersebut

    so apakah hadits ini tidak dipakai,,,
    klo cuma hadits tidak ada larangannya ya itu bersifat general,,, tapi ketika ada dalil khususnya tentu yang umum tidak bisa

    ReplyDelete