Asmara di Atas Haram

   Seperti halnya tubuh yang membutuhkan makan untuk membangkitkan energi, begitu juga dengan jiwa. Jiwa-jiwa yang haus akan ilmu perlu mendapatkan jatah sesuai dengan porsinya. Salah satunya dengan membaca. Alhamdulilah, saya baru saja menyelesaikan  membaca sebuah Novel Karya Zulkufli L. Muchdi. Sebuah novel mahakarya yang menurut saya sangat indah.
Gambar, Asmara, di, Atas, Haram, Zulkifli, L, Muchdi

     Berkisah tentang "Lelaki Berjilbab" bernama Yasser, seorang Qari dan Hafizh asal Banjarmasin yang mengajarkan kita untuk selalu berhati-hati dalam menjaga kehalalan rejeki sekalipun berada dalam situasi yang genting. Novel yang ditulis berdasarkan kisah nyata ini membuktikan kepada kita bahwa masih ada pemuda yang jujur di Indonesia.
      Yasser menolak menggunakan uang 5 milyar yang ada di rekeningnya karena merasa bahwa uang tersebut bukan milikknya. Walaupun pada saat yang bersamaan ia membutuhkan uang untuk pengobatan Ibunda tercintanya. Yasser tidak ingin menodai darah suci ibunya dengan uang haram. Too good to be true, namun toh benar adanya. Kisah ini mengingatkan kepada kita kisah Bapak Agus, seorang OB di salah satu bank di Indonesia yang juga mengembalikan uang senilai Rp 100 juta yang ia temukan kepada pihak bank. Semoga kita bisa meneladani beliau-beliau ini.
Poin selanjutnya yang membuat saya kagum adalah
  1. Semangat Yasser kecil dalam menghafal Al-Qur`an sekalipun dalam keterbatasan seorang bocah yang tinggal di pedalaman tanpa penerangan. 
  2. Belajar untuk mengelola cinta sebagai fitrah Allah SWT melalui keikhlasan Yasser,  Isti, Dokter Eliza, dan Ferry (seorang anak menteri) untuk senantiasa melibatkan-Nya dalam mengambil keputusan, termasuk perkara jodoh.
  3. Betapa pentingnya menjalin ukuwah Islamiyah di seluruh penjuru dunia. Umat Muslim seluruh dunia bagaikan satu kesatuan anggota tubuh. Jika salah satu anggota tubuh terluka, maka seluruh tubuh dapat merasakan sakitnya. Begitu pula kita seharusnya, tidak tinggal diam melihat Muslim Palestina, Syiria, Rohingnya, dan lain-lain yang saat ini belum merdeka di atas penjajahan yahudi berkedok negara Israel dan antek-anteknya.
       Dan, yang paling membuat saya terkesan adalah novel ini bisa menjawab apa yang saya tanyakan selama ini "Mengapa Tawaf antara laki-laki dan perempuan disatukan? Bukankah menyentuh bukan mahramnya saja sudah haram?"
       Saya juga merasa teramat kasihan betapa lautan manusia mengelilingi Ka'bah seolah tak lagi memandang bagaimana orang di dekat saya. Saling menyikut, mendorong, bahkan menginjak-injak demi kepentingan diri sendiri. Namun, Yasser membuktikan bahwa inilah beda antara haji mabrur dan tidak. Dalam menjalankan Tawaf maupun ibadah haji yang lain seperti Sa'i, lempar jumrah, wukuf, dan sebagainya, Yasser sangat berhati-hati menjaga jarak agar tidak menyakiti muslim yang lain. Melalui Isti, seorang Qariah dan Hafizah asal Banten, saya juga belajar bahwa dengan niat tidak ingin menyakiti peserta ibadah haji yang lain dan menjaga jarak dengan yang bukan mahramnya, justru beliau mendapatkan kemudahan atas izin-Nya. Termasuk mencium hajar aswad. Subhanallah.
        Kemudian, jawaban atas pertanyaan "Mengapa Tawaf antara laki-laki dan perempuan disatukan? Bukankah menyentuh bukan mahramnya saja sudah haram?" membuat saya sangat menginginkan bahwa seluruh jumhur ulama di dunia ini bersatu untuk meluruskan bagaimana seharusnya Tawaf seperti cara Rasulullah SAW. Sejatinya, tawaf di zaman Rasulullah sangat berbeda dengan yang ada pada saat ini. Aisyah ra menceritakan bahwa dahulu, tawaf antara laki-laki dan perempuan adalah terpisah. Ada banyak solusi yang ditawarkan penulis terkait Tawaf yang seharusnya terpisah. Bukan hanya itu saja menurut saya, tetapi juga pada tata cara peribadatan yang lain. Bagaimana seharusnya muslim dan muslimah terpisah. Selain menghindari sentuhan bukan mahram, juga terkait faktor keamaan.
Gambar, Asmara, di, Atas, Haram Zulkifli, L, Muchdi

      Membaca novel yang berlatar di 2 Tanah Haram Mekkah dan Madinah, serta diangkat dari kisah Nyata membuat saya pribadi merasa bahwa masih banyak sekali kekurangan saya sebagai seorang muslimah yang mengenal agamanya. Yang senantiasa memposisikan Allah Dulu, Allah Lagi, Allah Terus. Novel yang sangat direkomendasikan untuk dibaca bagi pecinta novel Islami dan mungkin juga yang akan melaksanakan ibadah haji dan umroh.

Bisa mengunjungi penulis di
http://zulkifliadh.blogspot.com/ atau @zulkifliadh @noveladh

4 comments:

  1. Replies
    1. Ayo, dibeli Syeh...
      Semoga bisa jadi best seller dan mendongkrak karya2 Islami bermutu...
      Jangan beli yang bajakan ya...
      hehehe

      Delete
  2. Layak di koleksi sepertinya novel ini. Mudah mudahan nanti akan di filmkan juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin...
      Berharap sekali bisa difilmkan :)
      Dan, beruntung banget yg bisa jadi pemainnya.
      Hehehe

      Delete