Membangun Mental dan Karakter Bangsa Dengan Pancasila Sebagai Upaya Filterisasi Arus Globalisasi dan Multikultural

    Sejatinya kehidupan di dunia ini adalah kehidupan yang dinamis dan senantiasa mengalami perubahan. Siap tidak siap, mau tidak mau, suka tidak suka, kehidupan ini akan terus berubah hingga tak berujung pangkal. Atau mungkin seperti pegas yang akan menemukan titik kesetimbangannya dan menjadi plastis kemudian berhenti mengalami perubahan.
    Perubahan dan perkembangan dunia dalam era global dan multikultural ini ibarat dua sisi mata pisau. Jika masyarakat atau bangsa tersebut tidak siap menghadapi tantangan-tantangan global yang bersifat multidimensi dan tidak dapat memanfaatkan peluang, maka akan menjadi korban yang tenggelam di tengah-tengah arus globalisasi. Namun, jika bangsa tersebut siap secara lahir dan batin dalam menghadapinya, maka bangsa itu akan tumbuh menjadi bangsa yang maju dan besar.

gambar, peran, pancasila, dalam, menguatkan, identitas, bangsa, di, tengah, arus, globalisasi, dan, multikultural
Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita bersikap bijak dan sewajarnya dalam menghadapi globalisasi saat ini. Mengambil sisi positif dan meninggalkan sisi negatif. Dan, untuk bisa melakukan itu semua, setiap bangsa membutuhkan filter tak terkecuali Indonesia.
Bangsa Indonesia sudah memiliki Pancasila sebagai filter dan pembangun karakter bangsa selama hampir 68 tahun. Pancasila lahir pada tanggal 1 Juni 1945 sebagai rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Oleh Ir. Soekarno Pancasila dibentuk guna menjadi nation and character building. Yaitu, pembangunan mental dan karakter kebangsaan untuk membenahi setiap sendi kehidupan bangsa, terutama mentalitasnya.

Di mata Ir. Soekarno, sebuah bangsa yang sudah dijajah selama lebih dari 3,5 abad lamanya, tentu meninggalkan banyak kerusakan. Kerusakan yang terburuk adalah kerusakan mental dan karakter kebangsaan. Bahkan sebagian harus rela menjadi pengkhianat bangsa sekadar demi bertahan hidup. Pancasila hadir untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan tersebut. Menumbuhkan kecintaan kepada bangsa dan negaranya hingga rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negaranya. Bukan menjadi pecundang yang hidup dalam ketertundukan, ketergantungan, ketakutan, dan jilat-menjilat demi kepentingan pribadi maupun golongan. Menjadikan kita rela memperbudak bangsa sendiri. Padahal, perbudakan adalah hal yang tidak manusiawi.
  Untuk menyongsong era globalisasi, bangsa Indonesia seharusnya semakin menjadi bangsa yang Pancasilais. Agar tak ada lagi penjajahan globalisasi di tengah kemerdekaan. Yang berarti bahwa kita siap menjadi bangsa yang bermental kuat dan berkarakter Pancasila guna menjadi bangsa yang maju dan besar tanpa melupakan jati diri bangsa. Hal yang akan membuat kita menjadi bangsa yang bermartabat dan tidak dipandang sebelah mata oleh bangsa lain. Setidaknya, terdapat lima pilar nation and character building yang harus kita bangun kembali dengan Pancasila. Yang dengan ini, Ir. Soekarno sangat dihormati oleh hampir semua bangsa dan negara dari dulu hingga kini.

  1. BERDIKARI
     Berdikari, berdiri di atas kaki sendiri atau kemandirian. Hal ini harus dimiliki oleh setiap individu. Logikanya, ketika seseorang memiliki ketergantungan yang besar terhadap orang lain, maka ia krisis kepercayaan diri dan tidak dapat berkembang dengan kemampuan dirinya secara maksimal. Parahnya, jika dia bergantung pada seseorang yang tidak tepata, maka dia akan dijadikan boneka atau budak oleh orang tersebut. Begitupun suatu bangsa yang memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap bangsa lain, maka bangsa itu akan dimanfaatkan oleh bangsa lain. Diambil potensinya, namun hanya diberikan sangat sedikit hasil jerih payahnya. Lantas, setelah tidak ada lagi yang bisa dimanfaatkan, maka bangsa itu akan dicampakkan begitu saja tanpa masa depan.
    Indonesia, negeri yang sangat kaya, baik potensi alam maupun sumber daya manusianya sudah diatur dalam butir-butir pengamalan sila kelima, keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Bahwasanya, bangsa yang Pancasilais adalah bangsa yang mandiri, suka kerja keras, dan tidak hidup bermewah-mewah sehingga pasak tak lebih besar daripada tiang. Serta suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial. Kini, kita berjuang tak lagi dengan pedang, namun dengan perantara ilmu dan kalam.

  1. KEDAULATAN RAKYAT
   Kedaulatan rakyat ditujukan untuk mengganti sistem-sistem sebelumnya seperti feodalisme dan kolonialisme. Kedaulatan rakyat, dimana rakyatlah yang memegang kekuasaan tertinggi, bukan para raja atau pemilik modal. Untuk itu, perlunya penegakkan hukum untuk menjamin keadilan sosial, bukan hukum atau peraturan yang memiliki 'standar ganda' dalam pelaksanaannya, tidak hanya efektif untuk rakyat kecil tapi bisa toleran bagi orang-orang dalam lingkar kekuasaan dan para pemodal.
 Bangsa dan negara yang Pancasilais adalah bangsa yang mampu mengambil keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama, bukan kepentingan pribadi atau golongan. Hal ini tertuang dalam butir-butir pengamalan Pancasila sila keempat, yaitu Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.

  1. PERSATUAN
   Persatuan adalah kondisi yang sangat penting terjalin guna menumbuhkan sikap nasionalisme yang ditekankan oleh Soekarno yaitu sosionasionalisme, dimana nasionalisme yang tidak hanya sekedar mencintai tanah air dan bangsanya saja, tapi lebih mendasarkan diri kepada kecintaannya untuk memperjuangkan rakyat kecil.
   Indonesia adalah negara kepulauan yang dihuni oleh beragam suku, ethnik yang harus dipersatukan dalam satu kesadaran berbangsa. Lebih lanjut, pernah juga Soekarno mengungkapkan "nasionalismeku adalah perikemanusiaanku" yang juga memberi perbedaan secara tegas antara nasionalisme yang harus ada di Indonesia dengan nasionalisme bangsa Eropa.
  Menurut Soekarno nasionalisme Eropa telah memunculkan kolonialisme dan imperialisme yang menghisap, sedang nasionalisme Indonesia itu harus berdasarkan kegotong royongan dan kesetaraan (egalitarian).  Sebagaimana yang tertuang dalam pengamalan Sila Ketiga, yaitu Persatuan Indonesia yang selain menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika, namun juga berkeadilan sosial. Bangsa yang mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

  1. BANGSA YANG BERMARTABAT DAN BERWIBAWA
     Sebagaimana cita-cita Indonesia untuk membetuk negara yang aman dan tertib untuk mencapai kesejahteraan nasional. Maka, yang diperlukan adalah bangsa yang bermartabat dan berwibawa. Kewibawaan negara meredup tatkala hukum peraturan perundang-undangan mulai dapat dinegosiasi, yang terjadi adalah berlakunya hukum rimba: yang kuat yang menang.
     Hal ini tentu tidak akan terjadi jika setiap individu memahami dan menerapkan pengamalan Sila Kedua, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Dimana kita berani membela kebenaran dan keadilan atas dasar nilai-nilai kemanusiaan. Sadar bahwa bangsa kita adalah bangsa yang mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.

  1. BERMORAL DAN BERKARAKTER KETUHANAN YANG MAHA ESA
   Sikap yang paling penting dan tidak boleh ditinggalkan adalah moral dan karakter yang Berketuhanan Yang Maha Esa. Sikap yang berlandaskan sila pertama ini merupakan dasar dari segala benteng dan filter bangsa. Sadar bahwa apa yang kita lakukan di dunia ini selalu dalam pengawasan-Nya dan akan dimintai pertanggung-jawabannya kelak. Bukan hanya di dunia, tetapi di akhirat. Keadilan tertinggi yang tak mungkin dapat dimanipulasi.
   Jika setiap individu memiliki kesadaran penuh akan hal ini, maka tidak akan ada lagi korupsi, kecurangan, kebohongan, konspirasi, eksplorasi dan perusakan lingkungan, serta banyak hal lain yang merugikan orang lain dan alam semesta.
Dengan sikap ini pula, kita membentengi diri untuk tidak terbawa arus globalisasi dan multikultural yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan dan jati diri kebangsaan. Sebagai umat Islam, saya berpegang pada Al-Qur’an dan Al-Hadist bahwa saya diciptakan di bumi ini sebagai khalifah yang diamanahi untuk menjaga alam semesta dan menjalankan hubungan baik kepada Tuhan dan sesama manusia, Habluminallah dan Habluminannas.

Demi menghalau kerusakan sendi kebangsaan untuk kesekian kalinya, maka peran Pancasila seharusnya ditempatkan sebagaimana mestinya. Yaitu, sebagai filter dan pembangun mental dan karakter kebangsaan di tengah arus globaliasasi dan multikultural. Lantas bagaimana kita memulainya? Mulailah dari diri kita sendiri yang nantinya dapat dijadikan suri teladan oleh orang-orang di sekitar kita. Percayalah bahwa tindakan dan keteladanan akan berbicara lebih keras daripada kata-kata. Saya yakin, kerasnya batu dapat berlubang juga oleh tetesan-tetesan air yang terus menjatuhi permukaannya.




Daftar Pustaka
Rianto Y. 2012. Nation Character Building. http://warungkopidemokrasi.blogspot.com/2012/04/nation-character-building.html  [22 Mar 2013]
Hamidy R. 2011. Implementasi Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer, AMIKOM.
Wikipedia. 2013. Pancasila. http://id.wikipedia.org/wiki/Pancasila [20 Mar 2013]


Artikel ini diikutsertakan dalam:

lomba blog pusaka indonesia 2013

2 comments:

  1. Identitas Bangsa mungkin ada di ambang kehancuran.. Khususnya Jawa. Karna kita tidak merawat budaya kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk, kita mulai dari diri sendiri dulu mas agar budaya kita tidak hancur :)
      Miris juga, norma2 kita tergeser atas nama modernisasi :)

      Delete