Belajar Menjadi Agen Muslim yang Baik Melalui Novel 99 Cahaya di Langit Eropa

“Menjadi Agen Muslim yang Damai, Teduh, Indah, dan Membawa Berkah kepada Komunitas Non-Muslim”
(Fatma, Ibu Rumah Tangga, Muslimah Turki, Tinggal di Wina, hlm 47)

Judul Buku       : 99 Cahaya di Langit Eropa
ISBN                : 978-979-22-7274-1
Penulis        : Hanum Salsabiela Rais, Rangga Almahendra
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Harga               : Rp 69.000
Halaman           : 412
Terbit               : 28 Juli 2011
   Buku ini merupakan sebuah novel non-fiksi karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra sebagai hasil dari sebuah kisah pencarian jejak-jejak romantisme Islam dengan belahan bumi Eropa seribu tahun lalu. Islam dengan keseimbangan antara agama dan sains pernah memberikan cahaya kehidupan bagi Eropa. Mengangkat masa-masa kegelapan dan ketertinggalan Eropa menjadi masa-masa yang terang benderang dalam perkembangan dan kemajuan yang sangat pesat hingga kini. Melalui Cordoba, The City of Lights, ibu kota kekhalifahan Islam di Spanyol, peradaban Islam meniupkan angin renaissance dan memancarkan cahaya kemajuan Eropa hingga saat ini.
Perjalanan panjang Hanum dan Rangga yang terbagi dalam 4 rute utama, yaitu Wina (Austria), Paris (Prancis), Cordoba dan Granada (Spanyol), serta Istanbul (Turki) pada akhirnya menarik kesimpulan Those who don’t learn from history are doomed to repeat it. Barang siapa melupakan sejarah, dia pasti akan mengulanginya. Banyak di antara umat Islam kini yang tidak mengenali sejarah kebesaran Islam pada masa lalu.” (George Santayana hlm. 4).
Islam pada masa kekhalifahan Ummayah memiliki teritori hampir 2 kali lebih besar daripada wilayah Kekaisaran Roma di bawah Julius Caesar di mana kehidupan seluruh umat beragama dapat hidup damai berdampingan di bawah Islam, tempat dakwah bisa maju bersama ilmu pengetahuan (hal 194).
“Aku merasa imam masjid ini, siapa pun dia, juga mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan orang-orang yang sama sekali tak ada hubungan dengan dirinya. Namun, ia yakin akan perintah Allah dalam Alquran tentang kewajiban menyelamatkan jiwa umat manusia yang lain, apa pun agama mereka, apa pun kepercayaan mereka. Karena dengan demikian dia sama saja menyelamatkan seluruh manusia di bumi.”(hlm. 193)
Lee Grande Masquee, Masjid Agung Paris di pusat kota Paris. yang pernah digunakan untuk menyelamatkan puluhan warga Yahudi dari kejaran tentara Nazi Jerman
Bukti kemajuan ilmu pengetahuan Islam tersimpan rapi di Museum Louvre, Paris. Siapa sangka bahwa penemu peta antariksa ilmu falak adalah hasil temuan astronom Islam, Yunus Ibn al Husayn al-Asturlabi (1145), pun teknologi lensa yang kini bertengger di setiap kamera. Ilmuwan Islam pulalah yang mengenalkan dasar-dasar Algoritma, Aljabar, dan Trigonometri (hal 150-152).
Namun, mengapa kini cahaya itu meredup? Peristiwa apa yang akhirnya membuat Islam tersapu dari Spanyol dan bumi Eropa? Apa saja yang bisa kita pelajari dari kesalahan-kesalahan masa lampau agar kita tidak terperosok ke dalam lubang yang sama? Dan, menjadi agen muslim yang damai, teduh, indah, dan membawa berkah baik kepada Komunitas Muslim maupun Non-Muslim.
Melalui buku ini, Hanum dan Rangga mengajak kita untuk menghidupkan kembali cahaya Islam yang sempat redup. Menghangatkan kebekuan akan identitas Islam yang terenggut oleh keegoisan beberapa pihak yang mengatas-namakan pembelaan Tuhan dan Agama. Mengembalikan citra Islam sebagai agama yang menebarkan nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian. Meluruskan teladan-teladan yang keliru yang dilakukan oleh para pendahulu dan memperbaiki citra Islam menjadi agen muslim yang baik, menebarkan nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian.
“Fatma membukakan mata bahwa lima pilar inti ajaran agama Islam juga harus tersuguh dengan akhlaqul karimah dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya dimaknai sebagai tata cara beribadah. Fatma yakin bahwa menebar pengaruh kepada seseorang dengan cara memaksakan, menggurui, menghasut, menyerang atau membandingkan, bukan sudah zamannya lagi. Akan tetapi, dia percaya keteladanan berbicara lebih keras dari kata-kata.Dia yakin bahwa air talang yang hanya jatuh setetes-setetes pada batu yang keras lama-lama bisa membuat ceruk di permukaannya.” (hlm. 63)
Bukan hanya keteladanan Fatma, Muslimah Turki, Ibu Rumah Tangga yang tinggal di Wina saja yang membuat saya malu. Namun, Hanum dan Rangga mampu menampar saya melalui Marion Latimer, warga Eropa asli, justru tertarik mempelajari warisan budaya Islam, bahkan bersekolah di jurusan Islam abad pertengahan di sebuah universitas ternama di Paris, Universitas Sorbonne. Betapa fakta-fakta yang sungguh mencengangkan dan tak terendus oleh sejarah, atau mungkin sengaja ditutup-tutupi terkuak oleh Marion dan ditulis secara apik oleh Hanum.
Aku mengucek-ucek mata. Lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus itu terlihat biasa saja. Jika sedikit lagi saja hidungku menyentuh permukaan lukisan, alarm di Museum Louvre akan berdering-dering. Aku menyerah. Aku tidak bisa menemukan apa yang aneh pada lukisan itu. ‘’Percaya atau tidak, pinggiran hijab Bunda Maria itu bertahtakan kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah, Hanum,’’ ungkap Marion akhirnya. (hlm 166)
Arc de Triomphe du Carrousel dan bangunan-bangunan peringatan kemenangan Napoleon Bonaparte diyakini oleh Marion memiliki garis imajiner yang searah dengan kiblat di Mekkah. Napoleonic Code yang pasal-pasalnya senapas dengan syariah Islam. Keislaman Francois Menou, jenderal kepercayan Napoleon yang bersyahadat sekembalinya dari Mesir.
“‘Ini semua yang membuatmu berkesimpulan Napoleon seorang...muslim?’ Marion menoleh padaku. Lalu tertawa” (hlm 181)
Quadriga Arc de Triomphe du Carrousel yang dibangun Napoleon sepulangnya dari ekspedisi Mesir
Buku ini mampu mengajarkan saya untuk lebih dan lebih lagi mengenal Islam, bukan hanya sejarahnya tetapi juga teladannya untuk menjadi agen muslim yang baik, menebarkan nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian.
Dan, buku ini mampu memberikan panduan travelling yang mengajarkan bahwa “Perjalanan bukan sekedar menikmati keindahan dari suatu tempat ke tempat lain. Perjalanan bukan sekedar mengagumi dan menemukan tempat-tempat unik di suatu daerah dengan biaya semurah-murahnya. Tapi perjalanan harus bisa membawa pelakunya naik ke derajat yang lebih tinggi, memperluas wawasan dan menambah keimanan. Sebagaimana yang dicontohkan oleh perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah.”

4 comments:

  1. saya juga punya bukunya, dan menyenangkan sekali untuk dibaca.
    wah deh pokoknya.. menjadi semakin cinta dengan Islam. walau belum pernah menjadi kaum minoritas seperti itu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul banget...
      baca buku ini tuh, jadi sering introspeksi diri :)
      Di negara yang bhinneka tunggal ika, sikap kayak Fatma itu penting banget :D

      *poin yang betul2 membuat saya "wow" - Fatma :)

      Delete
  2. Ceritanya membuatku merasa ikut didalamny...
    Jd pengen cepet2 ntn filmnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ikutan castingnya aja mas. Hehehe
      Biar bisa sekalian ikutan ke lokasi...
      Mau banget.... Hahaha

      Delete