7 Langkah Strategis Menuju AEC 2015

Enam puluh delapan tahun sudah kita merayakan hari jadi negara kita tercinta, Indonesia. Yup! Tepatnya, 17 Agustus kemarin. Tidak sedikit dari kita yang merasa pesimis dengan masa depan Indonesia. Tetapi, masih lebih banyak dari kita yang tetap optimis untuk Indonesia yang lebih baik. 

"Have you ever wonder why other countries called us “The Sleeping Giant”? They see the potential in us, they see what wonders that we can do" (@faradilaaa)


Salah satu kicauan dari seorang sahabat yang membuat saya terhenyak, betapa sebenarnya begitu banyak potensi yang kita miliki yang tidak kita sadari. Harapan itu masih ada, Sobat! Kita masih bisa berjuang untuk Indonesia yang lebih baik.

Masih pada hari yang sama, 17 Agustus 2013. Malam menjelang tidur, saya kembali menemukan tweets yang tidak kalah menarik dari @aseanblogger. Sebuah ajakan kepada kita untuk merenung akan masa depan Indonesia. Terutama dalam rangka kesiapan kita menyambut Komunitas ASEAN 2015.

"Penah nggak sih kepikir bahwa kita sering kali mengirimkan tenaga unskill keluar negeri bisa Malaysia atau negara tetangga sesama ASEAN"

"Nah pertanyaannya apakah nanti kalau Komunitas 2015 dibuka justru kita kebanjiran tenaga skill masuk Indonesia"

"Tiba tiba ada Salon Thailand bersertifikasi beredar di Jakarta ? Dampaknya apa ?"

Siap tidak siap, Komunitas ASEAN 2015 akan dimulai pada 31 Desember 2015 mendatang. Saya berpikir bahwa jika kita tidak bergerak cepat mempersiapkan amunisi dalam menyambut dibukanya Komunitas ASEAN 2015  kita akan terjajah di negeri sendiri. Dalam hal ini saya menggaris bawahi pada ASEAN Economic Communtity (AEC). AEC terdiri dari 4 pilar, yaitu (1) pasar tunggal dan basis produksi regional, (2) kawasan berdaya saing tinggi, (3) kawasan dengan pembangunan ekonomi yang merata, dan (4) terintegrasi dengan perekonomian dunia. 

Konsekuensi diberlakukannya AEC adalah adanya liberalisasi perdagangan barang, jasa, investasi, tenaga terampil secara bebas dan arus modal yang lebih bebas, sebagaimana yang digariskan dalam AEC Blueprint. Pertanyaannya "Apakah Indonesia siap?" 


Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), Bayu Krisnamurthi mengklaim, bahwa 83 persen Indonesia telah siap menghadapi AEC. Sedangkan, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi dan  peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri menyatakan bahwa Indonesia belum siap bersaing. Bagaimana menurut Sobat?


AEC ibarat 2 buah mata pisau bagi Indonesia, bisa menjadi peluang yang membawa manfaat dan berkah (land of opportunities) juga bisa menjadi musibah  (loss of opportunities). Kita akan menjadi produsen yang banyak mengekspor atau justru menjadi sasaran empuk importir. Jawabannya adalah pada kesiapan Indonesia menghadapi AEC. Seberapa siapkah Indonesia menghadapi AEC? 


Banyak pihak yang mendesak agar pemerintah segera melakukan persiapan menyambut AEC 2015 yang sekiranya belum terdengar gaungnya. Langkah-langkah strategis pun sebaiknya diterapkan dengan segera. Dua tahun bukanlah waktu yang panjang untuk persiapan persaingan ketat ini. Berikut 7 langkah strategis yang dapat dilakukan oleh pemerintah Indonesia.


1. Sosialisasi Besar-besaran

Upaya sosialisasi hajat besar AEC ini menurut saya belum merata. Hanya terbatas kalangan tertentu. Bisa dibilang, kalangan menengah ke atas. Sedangkan, masyarakat awam ke bawah tidak begitu mengenalnya. Jangankan bersiap, mengenal pun tidak. Menurut sahabat saya, Tsabita Shabrina, hal ini sangat jauh berbeda dengan yang dia alami di Thailand. 

Semoga pemerintah segera melakukan sosialisasi ini, tak kalah meriah dengan kampanye pemilu 2014 lengkap dengan atributnya. Jika setiap pilkada maupun pemilihan presiden, tim sukses mampu mengirimkan sms personal maupun broadcast message ke hampir semua warga dalam berkampanye, saya rasa hal serupa tak sulit dilakukan untuk mensosialisasikan AEC.


"Atmosfir ASEAN dan AEC di Thailand sangatlah terasa. Pemerintah Thailand terlihat tak menganggap remeh pelaksanaan AEC, banyak sekali spanduk, umbul umbul dan papan-papan di berbagai fasilitas umum yang menginformasikan pelaksanaan AEC, media cetak, dan televisi juga aktif mengabarkan berita ini melalui countdown yang dihitung mundur setiap harinya. Saya sendiri juga dibuat heran ketika beberapa kali bertemu penjual kaki lima dan penumpang lain di bus yang saya naiki selalu menanyakan tanggapan saya, sebagai warga negara Indonesia terkait pelaksanaan AEC." 


Disinilah peran besar Komunitas Blogger ASEAN dibutuhkan, yaitu sosialisasi hal -hal terkait upaya pemerintah menyambut AEC. Agar informasi bisa menjangkau masyarakat luas.


2. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)

SDM merupakan hal yang paling krusial dalam menghadapi AEC. SDM yang berkualitas akan mampu bersaing dan kuat menghadapi tantangan. Cekatan serta inovatif dalam mengambil ide, langkah, dan tindakan. Peningkatan kualitas SDM misalnya dengan pelatihan bahasa. Bahasa sangat penting dalam peranan persaingan global. Terutama bahasa inggris. Selain itu, pengembangan skill dapat dilakukan dengan pelatihan, workshop, pertemuan rutin antar pelaku ekonomi, juga pembangunan networking. Semua hal ini dilakukan agar pelaku ekonomi selalu mengikuti perkembangan terbaru perekonomian. Tidak menjadi katak dalam tempurung zona nyamannya. Optimisme Indonesia bisa harus dimiliki para SDM yang berkualitas!

3. Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)

UMKM merupakan sektor ekonomi nasional yang sangat strategis dalam pembangunan ekonomi kerakyatan. Pemberdayaan ini dapat menciptakan iklim usaha dan mengurangi ekonomi biaya tinggi. Pemberdayaan UMKM sangat diperlukan untuk meningkatkan daya saing ekonomi. Persaingan dalam hal kualitas maupun kuantitas yang bukan hanya untuk pasar lokal dan nasional, tetapi juga ekspor. Semakin banyak UMKM yang bisa mengekspor, akan semakin besar pula daya saing ekonomi Indonesia. Pelatihan penggunaan website dalam rangka memperluas segmentasi konsumen juga sangat diperlukan di era digital saat ini. Hal ini yang terkadang masih jarang dilakukan oleh UMKM.

4. Penyediaan Modal

Pemodalan ini sangat penting untuk meningkatkan kapasitas produksi suatu usaha. Oleh karenanya, dibutuhkan lembaga pemodalan yang mudah diakses oleh pelaku usaha dari berbagai skala. Terutama pelaku UMKM yang seringkali kesulitan dalam penambahan modal.

5. Perbaikan Infrastruktur

Infrastruktur berupa sarana dan prasarana seperti logistik, listrik, telekomunikasi, revitalisasi transportasi, jalan raya, rel kereta api, pelabuhan, bandara, dan lain-lain. Kita mengetahui bahwa kesemua faktor ini sangat mempengaruhi proses produksi dan distribusi. Oleh karenanya, perbaikan infrastruktur ini harus disegerakan. Tersendatnya logistik dapat meningkatkan inflasi. Karena daya saing juga sangat ditentukan cepat lambatnya keluar masuk barang.

6. Reformasi Kelembagaan & Pemerintah

Kelembagaan dan pemerintah yang taat hukum & tidak memihak sangat diharapkan. Sikap kelembagaan & pemerintah yang kooperatif terhadap pelaku usaha merupakan salah satu hal yang harus diperbaiki. Tidak mempersulit urusan administrasi dan birokrasi yang berkepanjangan. 
Penguatan lembaga hukum harus ditingkatkan, terutama dalam hal independensi dan akuntabilitas kelembagaan hukum. Sehingga tercipta iklim kelembagaan hukum yang profesionalisme dan transparan. Upaya peningkatan kesejahteraan kelembagaan & pemerintah juga terus dilaksanakan guna mencegah tindakan yang mengarah dan berpotensi koruptif atau pungli.

7. Reformasi Iklim Investasi

Indonesia harus melakukan pembenahan iklim investasi melalui perbaikan infrastruktur ekonomi, menciptakan stabilitas makro-ekonomi, serta adanya kepastian hukum dan kebijakan, dan memangkas ekonomi biaya tinggi.

Peran aktif Komunitas Blogger ASEAN dalam rangka mendukung sosialisasi AEC harus dilakukan secara rutin dan berkala hingga tiba saatnya nanti 31 Desember 2015. Tidak berhenti hanya pada satu momen. Komunitas Blogger ASEAN diharapkan terus menyebarkan informasi terkini seluas-luasnya juga mengawasi kinerja pemerintah dalam hal persiapan menyongsong AEC. Menyumbangkan beberapa ide dan masukan untuk pemerintah dan juga pelaku usaha dalam upaya menyongsong AEC 2015. Mungkin, countdown, hitungan mundur lahirnya AEC perlu diterapkan. Setidaknya di dalam sidebar website kita masing-masing. Sehingga akan terus mengingatkan kita akan seberapa jauh dan matangkah persiapan kita.


Sekian tulisan dari saya. Mohon maaf jika ada beberapa kesalahan dan bagian yang tidak sempurna. Kritik dan saran juga penyempurnaan langkah strategis menuju AEC 2015 sangat diharapkan. Kita bersama-sama mempersiapkan diri menyongsong era baru demi Indonesia yang lebih baik.




Sumber :





0 komentar:

Post a Comment