Saintifikasi Jamu : Bukti Ilmiah Khasiat dan Keamanan Jamu

Jamu merupakan warisan leluhur yang khasiatnya dalam hal mencegah dan menyembuhkan penyakit sudah tidak diragukan lagi oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Bahkan, kecenderungan back to nature membuat perkembangan produk jamu ini semakin inovatif dari waktu ke waktu. Dulu, jamu dijajakan secara keliling oleh Mbok Jamu dengan pakaian khas wanita jawa, botol besarnya, dan tentu tenggok yang digendong. Atau, kita bisa membeli bahan jamu kering di pasar dan menyeduhnya di rumah. Dulu, nenek dan orang tua saya masih melakukan ini. Membeli bahan jamu kering dan menyeduhnya di dalam gerabah. Kini, kemasan jamu sudah beraneka ragam, praktis tinggal seduh dan bahkan ada yang bisa langsung konsumsi.

Namun, menilik tulisan Bapak Jaya Suprana terkait dengan "Jamu Sebagai Warisan Kebudayaan Dunia" dimuat di harian Kompas, 29 Maret 2013 yang menyatakan bahwa sekiranya masih terdapat beberapa dokter dan apoteker anti jamu. Karena menurut mereka, jamu masih belum bisa dipertanggungjawakan secara ilmiah. Benarkah?

SAINTIFIKASI JAMU : BUKTI ILMIAH KHASIAT DAN KEAMANAN JAMU

Departemen Kesehatan Indonesia mengerti akan dilematis jamu. Oleh karena itu, pada tahun 2010 silam, Depkes RI mengeluarkan Permenkes No.3 tentang Saintifikasi Jamu. Saintifikasi jamu adalah sebuah upaya dan proses pembuktian secara ilmiah jamu melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan, tidak hanya berdasarkan pengalaman turun menurun, namun khasiat jamu dibuktikan secara keilmuan melalui penelitian.


Program Saintifikasi Jamu juga ditujukan untuk mengawasi pemanfaatan jamu dan obat herbal agar tidak menimbulkan penyalahgunaan yang berakibat munculnya efek negatif yang tak diharapkan. Hal ini dilakukan melalui pembinaan SDM bidang jamu dan herbal, penyiapan bahan baku, hingga proses pembuatannya, agar tidak berefek samping yang merugikan bagi kesehatan masyarakat.

Metode penelitian Saintifikasi Jamu dalam menguji manfaat dan keamanan jamu menggunakan pendekatan holistik, sehingga luaran klinis tidak saja diukur objektif (hasil laboratorium dan pengukuran), namun juga ukuran subjektif (self-responded outcome, skor penyakit, dan kualitas hidup). Saintifikasi Jamu juga berupaya mengembangan Body of Knowledge sistem Pengobatan Tradisional Indonesia (termasuk jamulogi) ke arah kedokteran integratif dengan pendekatan terapi secara holistik. Melalui program ini, nantinya diharapkan akan terlahir dokter jamu yang dapat mengarahkan konsumen untuk mengonsumsi jamu sesuai petunjuk dan aturan yang berlaku. Kini sejumlah rumah sakit dan klinik percontohan sudah menggunakan jamu dan obat herbal sambil terus dilakukan uji klinis untuk menemukan penjelasan khasiat ilmiahnya.

Salah satu lembaga saintifikasi jamu ini adalah Biopharmaca Research Centre (BRC) atau Pusat Studi Biofarmaka Institut Pertanian Bogor (PSB-IPB)Kementerian Riset dan Teknologi juga menginisiasi kerja sama antara PSB-IPB dengan industri jamu di bawah koordinasi Gabungan Pengusaha Jamu. Sehingga, puluhan riset hasil penelitian PSB-IPB yang telah dipatenkan ini nantinya dapat dikomersilkan dan dipasarkan lebih luas. Baik di dalam maupun luar negeri.

Program saintifikasi jamu bukan bertujuan untuk menggeser peran obat medik (farmasi) yang selama ini digunakan dunia kedokteran. Namun, semata sebagai penyeimbang dalam upaya melengkapi upaya pelayanan kesehatan. Masyarakat sudah lama memercayai jamu dan obat-obatan herbal untuk mengatasi masalah kesehatannya. Jadi, pemanfaatan jamu dan obat ini tak bisa dilarang, tapi justru bisa dikaji secara ilmiah untuk selanjutnya disandingkan dengan sistem pengobatan medik yang menggunakan obat-obatan farmasi.

KONSUMSI JAMU JUGA ADA ATURANNYA
Sekalipun herbal, pemanfaat jamu juga harus mengikuti aturan bukan asal konsumsi dengan anggapan bahwa herbal tidak akan ada efek samping. Ini salah besar! 
Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional Drs. Bahdar Johan, M.Pharm padatalkshow Badan POM Sahabat Ibu dengan tema Konsumsi Jamu Benar, Tubuh Bugar di Gedung C Kantor Badan POM, Jalan Percetakan Negara, No. 23, Jakarta, Kamis (6/9/2012) menyatakan bahwa memperhatikan cara atau aturan pakai dalam mengonsumsi jamu sangatlah penting. Kalau salah, bukannya penyakit Anda yang hilang, malah nyawa melayang. 

Berikut ini tip yang diberikan oleh Drs. Bahdar Johan, M.Pharm agar Anda dapat mengonsumsi jamu secara tepat dan mendapatkan manfaatnya.
 
- Baca aturan pakai pada kemasan jamu, jangan mengonsumsi melebihi dosis.

 
- Minum dengan air putih agar rasa pahit hilang.
 
- Berikan jeda waktu sekira satu hingga 1,5 jam jika Anda ingin minum jamu setelah mengonsumsi obat.
 
- Berhati-hati apabila Anda memiliki kondisi penyakit tertentu.
 
- Jika Anda berobat pada dokter, informasikan jamu yang Anda konsumsi.
 
- Hentikan konsumsi jamu jika terdapat efek samping.



Dies Natalis PSB 2013

Sumber:
Siswanto.2012. Saintifikasi Jamu sebagai Upaya Trobosan untuk Mendapatkan Bukti Ilmiah tentang Manfaat dan Keamanan Jamu. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol. 15 No. 2 April 2012: 203 -211
Suprana J. 2013. Jamu sebagai Warisan Kebudayaan Dunia. http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-info/501-info-jamu-as-world-cultural-heritage-2013 [15 Sep 2013]
[Suara Pembaruan]. 2013. Pusat Studi Biofarmaka IPB Rintis Obat Herbal dan Jamu.http://www.beritasatu.com/kesehatan/128950-pusat-studi-biofarmaka-ipb-rintis-obat-herbal-dan-jamu.html [15 Sep 2013]
[Gatra]. 2013. Jamu Kini Digunakan di Rumah Sakit. http://www.gatra.com/lifehealth/sehat-1/28669-jamu-kini-digunakan-di-rumah-sakit.html [15 Sep 2013]
Nurani NA. 2013. Idap Penyait Tertentu, Hati-hati Minum Jamu. http://health.okezone.com/read/2012/09/06/482/686053/idap-penyakit-tertentu-hati-hati-minum-jamu [15 Sep 2013]

6 comments: