Arti Sebuah Nama

Sudah cukup lama saya ingin menulis artikel ini. Mungkin judul dia atas akan mengarahkan memori sobat kepada perkataan seorang maestro, William Shakespeare, yang mengatakan 
“What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.” 
(Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi). 

Namun, bukan itu yang hendak saya tuliskan. Saya ingin menulis tentang pendapat saya pribadi tentang pentingnya menjaga nama baik. Mengapa? Karena setiap pribadi dari kita tidak hanya membawa nama baik diri sendiri, tetapi juga orang tua, saudara, keluarga, peer group, sekolah atau alumni, lingkungan, dan terlebih adalah suku dan agama kita yang cenderung akan diperuncing isu sara atas segala tindak tanduk kita.


Saya tertarik membuat tulisan ini karena seringkali saya membaca komentar dari sebuah situs berita yang sangat memojokkan pihak lain atas kesalahan satu pribadi. Sebagai contoh, tidak lama ini beredar capture dari sebuah akun path yang menyatakan kekesalannya kepada ibu hamil yang meminta berbagi tempat duduk dalam salah satu gerbong kereta jurusan jabodetabek. Lantas, komen yang bermunculan sangat beragam.
"Bagaimana orang tuanya mendidik dan membesarkan anak seperti itu?"
"Bahkan saya yang berada di luar negeri yang katanya kebanyakan atheis, mereka lebih toleransi"
dan masih banyak lagi komentar yang memojokkan orang tua dan agama yang dianut oleh si pemilik akun. Lantas, adilkah kesalahan satu orang digeneralisir menjadi kesalahan sekelompok orang?

Kemudian, yang membuat saya sangat ingin menulis ini adalah pada saat seorang wanita mulia memaafkan pembunuh anaknya. Begitu banyak komentar memuji satu agama yang dianut oleh sang wanita mulia dan menjelek-jelekkan agama si pembunuh dengan sangat buruk. Selain, tentu komentar yang memojokkan bagaimana cara orang tua si pembunuh membesarkan dan mendidik si pembunuh. Lagi-lagi, agama dijadikan kambing hitam dalam kasus satu orang. Adilkah?

Kasus yang lain adalah betapa orang dengan kebebasan berbicara memojokkan salah satu institusi yang katanya mahasiswanya terlalu religi sehingga tidak menghormati dosen dan membuat salah satu sektor ekonomi dan kehidupan di Indonesia menjadi terpuruk. Dalam tulisannya, bahkan beliau mengatakan institusi tersebut layak untuk ditutup. Namun, poin penting dari artikel beliau adalah betapa beliau sangat menjelek-jelekkan satu agama yang dianut oleh beberapa mahasiswa itu. Lagi-lagi agama yang disalahkan. Adilkah?

Lain cerita dengan kasus korupsi yang menimpa banyak pegawai dari suku-suku tertentu hingga menciptakan satu pernyataan:
"Jika suku X hanya satu orang, maka dia akan menjadi maling. Tapi, jika suku X bersatu, maka mereka akan menjadi mafia."
Dalam hal ini, mafia pajak. Lantas kesalahan beberapa orang membuat seluruh nama baik sukunya buruk. Adilkah?

Saya yakin masih banyak kasus stereotype yang lainnya. Oleh karena itu, jadilah pribadi yang baik bukan hanya karena kepentingan diri kita sendiri semata, namun juga dikarenakan ada banyak nama baik yang harus kita jaga. Terutama orang tua, agama, alumni, lingkungan, suku, bahkan negara.

Semoga tulisan singkat ini bisa menginspirasi. Mohon kritik dan sarannya, terima kasih.
 

0 komentar:

Post a Comment