Jangan Berhenti Berdoa

Jangan pernah berhenti berdo'a sampai Allah subhanahu wata’ala menjawabnya dan jangan pernah ber su’udzon kepada Alloh subhanahu wata’ala atas ketentuan-Nya. Allah akan selalu menjawab doa-doa kita di saat yang tepat dengan jawaban yang terbaik. Bisa jadi Allah SWT akan menjawab doa kita dengan segera, saat ini, atau nanti. Bisa jadi dijawab dengan "iya" atau "tidak" dimana Allah sudah mempersiapkan jawaban lain yang lebih baik. Bukankah Allah SWT Sang Sutradara? Maka, sudah pasti Ia memiliki skenario sempurna atas hidup kita. Berikut ada 2 kisah nyata yang terjadi di Pakistan dan Indonesia. Kisah 2 orang yang menyadarkan kita pentingnya sabar dan doa serta sikap berbaik sangka kepada Sang Sutradara. Semoga menginspirasi.

Ada Kisah nyata, terjadi di Pakistan. Seorang Dr Ahli Bedah terkenal (Dr. Ishan) tergesa-gesa menuju airport. Beliau berencana akan menghadiri Seminar Dunia dalam bidang kedokteran, yang akan membahas penemuan terbesarnya di bidang kedokteran. Setelah perjalanan pesawat sekitar 1 jam, tiba-tiba diumumkan bahwa pesawat mengalami gangguan dan harus mendarat di airport terdekat.
Beliau mendatangi ruangan penerangan dan berkata: "Saya ini dokter spesialist, tiap menit nyawa manusia bergantung ke saya, dan sekarang kalian meminta saya menunggu pesawat diperbaiki dalam 16 jam?"
Pegawai menjawab: "Wahai dokter, jika anda terburu-buru anda bisa menyewa mobil, tujuan anda tidak jauh lagi dari sini, kira-kira dengan mobil 3 jam tiba."
Dr. Ishan setuju dengan usul pegawai tersebut dan menyewa mobil. Baru berjalan 5 menit, tiba-tiba cuaca mendung, disusul dengan hujan besar disertai petir yang mengakibatkan jarak pandang sangat pendek. Setelah berlalu hampir 2 jam, mereka tersadar, mereka tersesat dan terasa kelelahan.Terlihat sebuah rumah kecil tidak jauh dari hadapannya, dihampirilah rumah tersebut dan mengetuk pintunya.
Terdengar suara seorang wanita tua: "Silahkan masuk, siapa ya?"
Terbukalah pintunya. Dia masuk dan meminta kepada ibu tersebut untuk istirahat duduk dan mau meminjam telponnya.
Ibu itu tertawa dan berkata: "Telpon apa Nak? Apa anda tidak sadar ada dimana? Disini tidak ada listrik, apalagi telpon. Namun demikian, masuklah silahkan duduk saja dulu istirahat, sebentar saya buatkan teh dan sedikit makanan untuk menyegarkan dan mengembalikan kekuatan anda."
Dr. Ishan mengucapkan terima kasih kepada ibu itu, lalu memakan hidangan sementara ibu itu sholat dan berdoa serta perlahan-lahan mendekati seorang anak kecil yang terbaring tak bergerak di atas kasur di sisi ibu tersebut, dan dia terlihat gelisah di antara tiap sholat. Ibu tersebut melanjutkan sholatnya dengan do'a yang panjang.
Dr Ishan mendatanginya dan berkata: "Demi Allah, anda telah membuat saya kagum dengan keramahan anda dan kemuliaan akhlak anda, semoga Allah menjawab doa-doa anda."
Berkata ibu itu: "Nak, anda ini adalah ibnu sabil yang sudah diwasiatkan Allah untuk dibantu. Sedangkan doa-doa saya sudah dijawab Allah semuanya, kecuali satu."
Bertanya Dr. Ishan: "Apa itu doanya?"
Ibu itu berkata: "Anak ini adalah cucu saya, dia yatim piatu. Dia menderita sakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter-dokter yang ada di sini. Mereka berkata kepada saya bahwa ada seorang dokter ahli bedah yang akan mampu menyembuhkannya, katanya namanya Dr. Ishan, akan tetapi dia tinggal jauh dari sini, yang tidak memungkinkan saya membawa anak ini ke sana, dan saya khawatir terjadi apa-apa di jalan. Makanya sy berdo'a kepada Allah agar memudahkannya."
Menangislah Dr. Ishan dan berkata sambil terisak: "Allahu Akbar, Laahaula wala quwwata illa billah.Demi Allah, sungguh do'a ibu telah membuat pesawat rusak dan harus diperbaiki lama serta membuat hujan petir dan menyesatkan kami hanya untuk mengantarkan saya ke ibu secara cepat dan tepat. Sayalah Dr.Ishan Bu. Sungguh Allah SWT telah menciptakan sebab seperti ini kepada hamba-Nya yg mumin denga do'a. Ini adalah perintah Allah kepada saya untuk mengobati anak ini."

Cerita kedua adalah cerita dari  alm. Gus Dur. Sepulang dari undangan pengajian, mendadak beliau ingin beli duren. Akhirnya, rombongan beliau mampir di tempat penjual duren. Setelah memilih dan membeli, Gus Dur menyuruh staffnya untuk memberikan semua uang di amplop dari panitia pengajian tadi. Staffnya bilang, "ini 10 juta Gus". Tapi beliau memaksa menyerahkan semuanya. Menerima dan melihat isi amplop dari staff beliau itu, sang ibu penjual duren menangis dan bertutur bahwa tadi malam anaknya yang sedang sakit divonis dokter untuk operasi dengan biaya 10 juta. Subhanallah. Jangan pernah berhenti berdoa dan berbuat baik. Semoga menginspirasi dan membuat kita menjadi pribadi yang sabar dan ikhlas akan skenario-Nya.


Sumber:
KH. Abdullah Gymnastiar
Ludfi Dwi Ariestiawan

1 comment:

  1. Masya Allah, ceritanya sangat inspiratif.. Mata saya basah baca cerita yang dr.Ishan :'(

    ReplyDelete